News

Selama Sebulan, Kasus Aktif COVID-19 Meledak 43 ribu Kasus

Tepat sebulan setelah peniadaan mudik lebaran 2021 pada 18 Mei, bulan lalu, kenaikan kasus aktif Covid-19 di tanah air semakin menggila.


Selama Sebulan, Kasus Aktif COVID-19 Meledak 43 ribu Kasus
Sonny Harry B. Harmadi Ketua Bidang Perubahan Prilaku, Satgas Covid-19

AKURAT.CO, Tepat sebulan setelah peniadaan mudik lebaran 2021 pada 18 Mei, bulan lalu, kenaikan kasus aktif COVID-19 di Tanah Air semakin menggila. Sebulan belakangan, jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 telah bertambah hingga 43 ribu pada hari ini. Padahal, pada 18 Mei silam, atau lima hari setelah Idul Fitri, angka kasus COVID-19 di Indonesia sedang landai-landainya. Tercatat ada 87 ribu kasus aktif saat itu. 

"Dari 87 ribu pada 18 Mei, hari ini tanggal 19 Juni, tepat satu bulannya, kasus mulai naik. Dan dalam waktu satu bulan ini, naik menjadi 130 ribu kasus aktif. Artinya ada kenaikan sebanyak 43 ribu tambahan kasus aktif," kata Ketua Bidang Perubahan Prilaku Satgas Penanganan COVID-19,  Sonny Harry B. Harmadi dalam video yang diunggah di YouTube BNPB, Minggu (19/6/2021). 

Kenaikan jumlah orang yang terjangkit virus selama sebulan belakangan ini, kata dia, tentu saja membuat beban rumah sakit (RS) semakin berat. Sebab, peningkatan kasus itu bakal membuat RS rujukan menerima banyak pasien. Bersamaan dengan itu, tugas para tenaga kesehatan (nakes) juga makin berat. 

"Gimana nggak kewalahan RS kita. RS di mana pun di seluruh dunia, termasuk di negara maju tidak pernah dirancang untuk melayani pasien sakit secara berbarengan. Bersamaan. Nggak ada," katanya. 

Terkait penanganan kasus COVID-19 belakangan ini, dia mengatakan, pihaknya kini mengubah fokus penanganan. Konsentrasi mereka kini beralih ke penyelesaian kasus di hulu dengan cara memutus penularan. Upaya utu diharapkan akan dapat membantu mencegah penularan di masyarakat. 

"Jadi, kami mengubah strategi dari yang tadinya di hilir menjadi fokus di hulu. Yaitu upaya pencegahan," ujarnya. 

Perubahan strategi itu dilakukan diatas kesadaran bahwa intervensi kasus di hilir, tak akan maksimal bila pokok persoalan di hulu tak tertangani secara maksimal. Kata dia, sebanyak apapun ketersediaan ruang rawat di RS untuk menampung pasien COVID-19 tidak akan pernah cukup. 

"Mau kita tambah ruang perawatan pasien COVID-19 berapapun, (bahkan) kita konversi semua kamar di RS mejadi ruang perawatan isolasi COVID-19, nggak akan pernah cukup kalau di hulu tidak kita cegah kalau terjadi lonjakan yang luar biasa," katanya. 

Fokus utama pekerjaan di hulu, kata Sonny, yakni mencegah agar orang tidak tertular virus. Wujud nyata dari upaya itu yakni membatasi aktivitas dan mobilitas masyarakat. Sehingga potensi transmisi antar orang ke orang juga bisa dihindari. Strategi itu sudah mulai berjalan di berbagai daerah. Termasuk di Ibukota Jakarta. 

"Maka upaya pencegahan penularan menjadi strategi yang utama dalam pengendalian COVID-19, menjaga jangan sampai orang tertular," katanya.[]

Arief Munandar

https://akurat.co