Olahraga

Selain Tragedi Kanjuruhan, Ini Momen Aparat Tembakan Gas Air Mata di Sepakbola Indonesia

Selain Tragedi Kanjuruhan, Ini Momen Aparat Tembakan Gas Air Mata di Sepakbola Indonesia
Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk lapangan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/tom.)

AKURAT.CO - Gas air mata menjadi salah satu penyebab ratusan jiwa meregang nyawa pada Tragedi Kanjuruhan yang berlangsung pasca laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (01/10) silam.

Liga 1 Indonesia baru-baru ini diguncang dengan meninggalnya 131 korban jiwa pada tragedi tersebut karena terlalu banyak terpapar gas air mata, dan harus berdesakkan saat mencoba keluar dari dalam stadion yang sudah tidak kondusif.

Padahal sejatinya penggunaan gas air mata di dalam stadion tidak bisa dibenarkan. Sebagaimana tertuang dalam regulasi FIFA dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations, khususnya pasal 19 ayat b.

baca juga:

"Senjata api atau 'gas pengendali massa' tidak boleh dibawa atau digunakan," punyi pernyataan FIFA terkait penggunaan senjata api atau gas untuk mengontrol kerumunan di dalam Stadion.

Bukan hanya regulasi FIFA, penyalahgunaan gas air mata juga dilarang dalam Amnesty International.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyebut penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh aparat keamanan negara dalam mengatasi atau mengendalikan massa tidak bisa dibenarkan sama sekali.

Selain Tragedi Kanjuruhan, ternyata ada tiga momen lainnya di mana apart keamanan juga menembakkan gas air mata dalam pertandingan sepakbola di Tanah Air, berikut rangkumannya.

1. Liga Primer Indonesia 2012

Aparat pernah berupaya menghalau penonton yang turun ke lapangan dalam pertandingan Liga Primer Indonesia (IPL) di Stadion Gelora Bung Tomo, 3 Juni 2012.

Saat itu, Persebaya 1927 vs Persija. Insiden bermula saat sebagian pendukung Persebaya (Bonek) turun ke lapangan untuk mengambil spanduk setelah pertandingan. 

Namun aksi itu mendapat perlawanan dari pihak keamanan yang berusaha menghalau mereka. Suporter mulai melempari benda, polisi lantas menembakkan gas air mata. 

Satu orang dikabarkan meninggal dunia setelah kekurangan oksigen dan terinjak saat berdesakan di pintu ke luar stadion. Momen ini dikenal sebagai Argapani, atau singkatan dari Arogansi Aparat Tiga Juni.

2. Liga Indonesia 1996-1997

Momen penembakan gas air mata yang tak kalah menyita perhatian adalah semifinal Liga Indonesia 1996/1997 di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 26 Juli 1996.

Duel yang mempertemukan Mitra Surabaya melawan Bandung Raya itu harus dihentikan pada menit ke-63, karena ada gas air mata yang menyasar ke salah satu bench pemain.

Aparat awalnya ingin menembak gas air mata ke arah tribun penonton, ternyata ia keliru. Asap pedas justru menyebar di tepi lapangan, membuat pemain kelimpungan.

Sebagian pemain bahkan kesulitan bangkit dan terlihat mengalami sesak napas, hingga harus mendapat pertolongan tim medis. 

Pertandingan semifinal Liga Indonesia 1996/97 akhirnya dihentikan secara darurat, dan baru dilanjutkan esok harinya. Bandung Raya menang atas Mitra Surabaya, skor 1-0. 

3. Kualifikasi Piala Dunia 2019

Jejak penggunaan gas air mata juga sempat menjalar hingga ke laga Timnas Indonesia, tepatnya saat aparat membubarkan massa usai Kualifikasi Piala Dunia tahun 2019 silam. 

Saat itu, Timnas Indonesia berhadapan dengan Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Kamis (05/09).

Dalam laga ini, kericuhan sudah pecah di tengah laga, sejumlah penonton Indonesia menyerang kelompok suporter Malaysia, mengakibatkan sejumlah penonton luka.  

Timnas Indonesia akhirnya kalah dengan skor 2-3. Hasil ini membuat situasi semakin tidak terkendali. Massa berontak, sedang aparat harus melindungi para pemain.

Aparat keamanan pun melemparkan gas air mata dari arah tribun VVIP ke gate 1. Namun aksi ini tidak berlangsung lama, dan aparat diminta berhenti lewat pengeras suara.

4. Liga 1 2022-2023

Kompetisi Liga 1 2022/2023 pekan ke-11 berubah menjadi tragedi. Hal ini berawal dari kekalahan Arema FC atas Persebaya Surabaya saat derby, Sabtu (01/10/22).

Aremania turun ke lapangan setelah tim kebanggaannya kalah dengan skor akhir 2-3. Menurut informasi, mereka masuk untuk menguatkan para pemain Arema.

Namun, semakin banyak suporter yang turut ke lapangan, ada pula yang melempar botol ke penggawa Persebaya, mau tak mau aparat bertindak untuk menghalau massa.

Situasi yang tidak kondusif di lapangan memaksa aparat keamanan menembakkan gas air mata, hanya saja senjata kimia itu justru diarahkan ke tribun yang banyak penonton.

Nahasnya, jalan keluar stadion Kanjuruhan yang sempit membuat banyak orang terhimpit, belum lagi paparan gas air mata mengganggu pernafasan, 131 orang yang mayoritas suporter Arema FC setidaknya meninggal dunia.

 https://www.indosport.com/sepakbola/20221005/4-momen-tembakan-gas-air-mata-di-sepak-bola-indonesia-tragedi-kanjuruhan-paling-brutal