Ekonomi

Selain Milenial, Sejumlah Potensi Ini Mudahkan Genjot Pertumbuhan Keuangan Syariah!

OJK mengatakan bahwa terdapat potensi yang harus didorong untuk bisa menggenjot pertumbuhan keuangan syariah.


Selain Milenial, Sejumlah Potensi Ini Mudahkan Genjot Pertumbuhan Keuangan Syariah!
Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara dalam webinar Menggenjot Akselerasi Keuangan Syariah di Kalangan Milenial di Jakarta, Jumat (25/6/2021).

AKURAT.CO Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara mengatakan bahwa terdapat potensi yang harus didorong untuk bisa menggenjot pertumbuhan keuangan syariah.

Potensi itu, yakni kontribusi dari generasi milenial yang jumlahnya sangat signifikan dengan jumlah sekitar 28-30% dari total penduduk Indonesia.

“Dalam rangka menggenjot pertumbuhan keuangan syariah salah satu potensi yang harus didorong adalah kontribusi dari generasi milenial yang jumlahnya sangat signifikan dengan jumlah sekitar 28 sampai 30% dari total penduduk,” ujarnya dalam webinar Menggenjot Akselerasi Keuangan Syariah di Kalangan Milenial di Jakarta, Jumat (25/6/2021).

Selain generasi milenial, potensi lainnya yakni generasi Z (gen Z) yang memiliki populasi sangat signifikan dari total penduduk di Indonesia.

“Ditambah lagi dengan generasi Z dan jumlahnya lebih dari 27%,” lanjutnya.

Menurut Tirta, umumnya generasi milenial telah memiliki kemampuan keuangan. Sehingga kelompok milenial ini jelas merupakan critical economic players yang dapat berperan dalam mengakselerasi pertumbuhan keuangan syariah.

Disisi lain, hal ini didukung oleh pertumbuhan digitalisasi sebagai gaya hidup yang baru dan preferensi baru dalam bertransaksi oleh kelompok milenial.

Berdasarkan survei sekitar 94% milenial Indonesia telah terkoneksi dengan internet dan 79% milenial itu membuka smartphone.

“Satu menit setelah bangun tidur (membuka smartphone) jadi setelah bangun tidur yang dicari HP, kita tentu berharap industri keuangan syariah bisa menangkap potensi ini dan menjadikan digitalisasi sebagai salah satu pilihan model bisnis baru,” jelasnya.

Namun demikian, kata Tirta, salah satu elemen yang masih menjadi tugas bersama adalah mayoritas penduduk Indonesia ternyata belum mengenal produk keuangan syariah dengan baik.

Sementara itu, golongan milenial yang jumlahnya besar tersebut hanya akan berdampak positif atau signifikan terhadap pengembangan keuangan syariah apabila memiliki tingkat literasi keuangan syariah yang memadai.

Sebagai informasi, berdasarkan data OJK, hingga Maret 2021 total aset keuangan syariah tidak termasuk saham Syariah telah mencapai Rp1.863 triliun atau sekitar 10% dari total aset industri keuangan yaitu dari perbankan syariah. Adapun market share 6,4% dari yang non Bank Syariahnya 4,4% dan yang pasar modal syariahnya cukup tinggi yaitu 17,3%.[]