Rahmah

Selain Cerdas, Abu Nawas Juga Dikenal Sebagai Penyair yang Konsisten Lho, Yuk Lihat Kisah Uniknya

Saat itu baginda ingin belajar kebijaksanaan hidup kepada Abu Nawas.


Selain Cerdas, Abu Nawas Juga Dikenal Sebagai Penyair yang Konsisten Lho, Yuk Lihat Kisah Uniknya
Ilustrasi Abu Nawas (Daarulilmi)

AKURAT.CO Abu Nawas dikenal sebagai tokoh jenaka yang penuh dengan kecerdasan. Ia bahkan menjadi masyarakat biasa yang dihargai oleh Khalifah harun Ar-Rasyid sebab kecerdasan yang dimilikinya di atas rata-rata.

Terdapat sebuah pemandangan yang jarang terjadi, yaitu Abu Nawas datang ke istana tanpa diundang oleh baginda. Setibanya di istana, ia langsung disambut baginda.

"Kebetulan engkau datang, Abu Nawas. Aku memang sudah kangen ingin bertemu denganmu," kata Baginda tanpa basa-basi. 

Mendengar perkataan rajanya, Abu Nawas menjadi senang bukan kepalang. Diketahui hubungan mereka belakang ini memang sedang dekat-dekatnya.

"Kali ini, apa yang mesti hamba lakukan, baginda?" tanya Abu Nawas. 

"Tidak ada," sergah baginda. 

"Sebentar dulu," ujar baginda kemudian beranjak dari tempat duduknya. Begitu kembali, baginda sudah berganti pakaian sederhana, layaknya rakyat biasa. 

"Tampaknya, saya ingin ke rumahmu," titah baginda. 

"Untuk apa baginda ke rumah hamba?" tanya Abu Nawas heran dan kaget karena rumahnya sedang berantakan.

Istrinya pun tak ada di rumah. Lalu siapa yang menyiapkan hidangan untuk baginda.

"Intinya saya mau ke rumahmu," ujar baginda dengan sedikit memaksa. 

Karena baginda memaksa, akhirnya Abu Nawas mengalah. Tanpa ada pengawal, baginda dan Abu Nawas berjalan kaki menuju rumah Abu Nawas, yang jaraknya tidak begitu jauh. 

Setibanya di rumah, baginda tidak menyangka melihat rumah Abu Nawas yang sangat sederhana. Tak ada barang berharga di rumah itu. 

"Dimana dengan istrimu?" tanya baginda. 

"Istri hamba sedang menjenguk orang tuanya," jawab Abu Nawas

"Kebetulan, saya ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup darimu," kata baginda. 

Abu Nawas masih belum paham dengan maksud baginda. Ia berpikir sejenak. Abu Nawas menyadari permintaan baginda tidak mungkin bisa ditolak. Akhirnya ia mengerti, bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktik. Baginda juga tidak keberatan menemani Abu Nawas dan melihat perilakunya. 

Sehingga malam itu baginda tidak kembali ke Istana. Baginda berencana menginap di rumah Abu Nawas. 

Abu Nawas kemudian menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya hingga menyala.

"Mengapa api itu engkau tiup?" tanya baginda. 

"Agar panas dan lebih besar apinya, baginda," jawab Abu Nawas.

Setelah api besar, Abu Nawas memasak sop. Setalah sop itu matang, Abu Nawas menuangkannya ke dalam dua mangkok. la mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sop itu.

"Mengapa sop itu engkau tiup?" tanya baginda lagi. 

"Agar lebih dingin dan enak dimakan, baginda," jawab Abu Nawas. 

"Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu," ketus baginda mengagetkan Abu Nawas.

"Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu," lanjut Baginda diiringi senyum kecut Abu Nawas. 

Akhirnya, baginda tidak jadi menginap di rumah Abu Nawas. Malam itu juga baginda pulang ke istana diantar Abu Nawas. Di perjalanan keduanya bicara tentang berbagai hal. 

"Berapa umurmu, Abu Nawas?" tanya baginda.

"Empat puluh tahun, baginda" jawab Abu Nawas. 

"Tetapi beberapa tahun yang lalu, kau menyebut angka yang sama." tanya baginda kembali.

"Hamba konsisten, baginda," jawab Abu Nawas dengan sedikit tersenyum.

Sampai di sini, baginda akhirnya mengakui kecerdasan seorang Abu Nawas.[]