News

Sekjen Nasdem Terjerat Korupsi, Rhenald Kasali Salahkan Rekrutmen Parpol: Pragmatis Sekali

Sekjen Nasdem Terjerat Korupsi, Rhenald Kasali Salahkan Rekrutmen Parpol: Pragmatis Sekali
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali ditemui di Jakarta, Jumat (27/10) (AKURAT.CO/Denny Iswanto)

AKURAT.CO Praktisi bisnis Rhenald Kasali menyalahkan partai politik sebagai wadah rekrutmen semakin pragmatis sehingga tidak mempertimbangkan kompetensi kader yang didorong ke panggung publik. Ia juga mengkritik partai-partai politik yang ideologinya semakin melemah dan cenderung menuju ke tengah

"Yang lebih menarik lainnya adalah partai politik semakin menuju ke tengah, jadinya pragmatis sekali, tidak ada ideologi. Yang masih punya ideologi kuat mungkin saya kira adalah PDIP, PPP, dan Golkar. Tapi sebagian besar orang menjadi lebih pragmatis. Mereka bergulat untuk mendapatkan pemilih dengan cara cari orang (calon) yang populer dan berduit. Kenapa? Karena untuk mendapatkan pemilih itu butuh duit," kata Rhenald, dikutip dari kanal Youtube-nya pada Selasa (23/5/2023).

Ibarat transfer pemain dalam klub sepakbola, menurutnya, parpol-parpol saat ini bisa mengambil calon sesuka hati tanpa melihat kesesuaian latar belakang dengan visi partai.

baca juga:

"Partai menuju ke tengah ini lebih mengerikan lagi. Ternyata mereka bisa mengambil anggotanya siapa saja dan ini menjadi klub sepakbola yang ada transfer pemain. Bahkan bisa menggunakan kekuasaan dan menggunakan APH (Aparat Penegak Hukum) untuk menangkap seseorang kalau dia enggak pindah ke partai Anda," jelasnya.

Rhenald pun mencermati uang masih menjadi faktor yang dominan dan signifikan dalam setiap pemilihan umum. Hal ini yang membuat calon terpilih tidak dapat menjalankan kinerjanya dengan baik.

"Kita sudah dengar pembicaraan di publik, ini sudah jadi rahasia umum di mana-mana kalau untuk menjadi bupati paling enggak dibutuhkan 50 miliar untuk daerah tertentu, untuk jadi gubernur minimal 100 miliar, dan untuk menjadi caleg itu diperlukan 5 miliar. Ngeri kan, kecuali Anda sudah terkenal dan punya karya di daerah Anda masing-masing," paparnya.

Idealnya, jelas dia, pemilihan calon didasarkan sistem merit (kemampuan) serta harus ada sistem pembinaan oleh partai politik.

"Kalau sudah ada orang (calon), pertanyaannya ada dua. Pertama, diseleksi atau tidak orang-orang ini. Sekolah-sekolah semua ingin membangun karakter, jadi sekolah berbasiskan karakter, tapi enggak pernah kita dengar partai berbasiskan karakter. Jadi kalau partai berbasis karakter, rekrutlah orang-orang berdasarkan sistem merit, misalnya menggunakan psikotes. Setahu saya hanya ada satu dua partai yang menggunakan psikotes untuk merekrut," jelasnya.

Kader partai kembali terjerat kasus hukum. Terbaru, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) sekaligus Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Ia terlibat dalam kasus korupsi penyediaan infrastruktur base transceiver station (BTS) 4G dan infrastruktur pendukung paket 1, 2, 3, 4, dan 5 Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) di Kemenkominfo tahun 2020-2022.

Adapun lima paket proyek yang ditangani BAKTI Kemenkominfo itu berada di wilayah 3T, yakni terluar, tertinggal, dan terpencil, seperti Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan NTT. Nilai kerugian negara akibat kasus ini ditaksir mencapai Rp8 triliun.[]

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.
Sumber: Warta Ekonomi