Lifestyle

Bukan Hanya Pertunjukan, Wayang Juga Media Pendidikan dan Dakwah

Melansir situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, wayang berasal dari kata wayangan dalam bahasa Jawa yang berarti bayangan

Bukan Hanya Pertunjukan, Wayang Juga Media Pendidikan dan Dakwah
Pengunjung menyaksikan pameran wayang yang bertajuk 'Wayang Rupa Kita' di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (20/11/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO  Masyarakat Indonesia tentu sudah tidak asing lagi dengan wayang. Melansir situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, wayang berasal dari kata wayangan dalam bahasa Jawa yang berarti bayangan. 

Wayang sudah ada sejak 1500 SM. Kala itu masyarakat Indonesia belum mengenal agama, dan menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Mereka percaya bahwa jiwa orang mati masih hidup, dan setiap benda memiliki jiwa dan kekuatan.

Mereka kemudian membuat patung, benda, menggambar untuk mewujudkan orang yang telah meninggal yang disebut "hyang" atau "dahyang".

baca juga:

Sementara orang yang bisa berhubungan dengan hyang adalah syaman. Konon, ritual pemujaan leluhur melalui hyang dan syaman menjadi cikal bakal pementasan wayang. Hyang menjadi wayang dan syaman menjadi dalang, atau dalang.

Sejarah Wayang, Budaya Indonesia yang Sudah Diakui UNESCO - Foto 1
Wayang Rupa Kita Pengunjung menyaksikan pameran wayang yang bertajuk 'Wayang Rupa Kita' di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (20/11/2021). AKURAT.CO/Endra Prakoso

“Sebagai salah satu warisan mahakarya dunia yang tidak ternilai dalam seni bertutur atau Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity, yang diakui oleh UNESCO (2003)," demikian tertulis dalam situs Kemdikbud RI, dikutip Akurat.co pada Selasa (15/2/2022). 

Sementara dalam Naskah Jawa Kuno yang kemudian diterbitkan Pradnya Paramita pada tahun 1981. Naskah tersebut menyebutkan bahwa wayang memang bermula dari khayalan ataupun gagasan tentang bayangan manusia yang dapat ditonton. 

Jadi, khayalan atau gagasan tersebut dilukiskan di daun tal atau lebih dikenal dengan nama lontar. Hasil lukisan tersebut kemudian dipertontonkan dengan cara memantulkannya di atas kain putih dan hanya diterangi lampu. Pentonton pun hanya melihat hasil lukisan tersebut dalam bentuk bayangan. Lantaran hanya di lukis di daun tal, bayangan yang muncul juga berukuran kecil, yaitu sekitar 2,5 sentimeter. Seiring berjalannya waktu, muncul lukisan dalam skala besar yang dibuat di kulit sapi alias lakon-lakon.

Sejarah Wayang, Budaya Indonesia yang Sudah Diakui UNESCO - Foto 2
Wayang Golek Sejumlah wayang golek milik Muhammad Yoce (Oce) di kawasan Setu, Tangerang, Rabu (18/8/2021). AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Pertunjukan wayang dimainkan oleh dayang dengan menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan yang dipilih sesuai dengan cerita yang dibawakan.

Cerita-cerita yang dipilih biasanya bersumber dari kitab Mahabarata dan Ramayana milik Hindu, India namun telah diserap ke dalam budaya Indonesia. 

Ada beragam jenis wayang yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Jenis-jenisnya pun beragam yang diantaranya adalah :

  • Wayang kulit Purwa
  • Wayang Golek Sunda
  • Wayang Orang
  • Wayang Betawi
  • Wayang Bali
  • Wayang Banjar
  • Wayang Suluh
  • Wayang Palembang
  • Wayang Krucil
  • Wayang Thengul
  • Wayang Timplong
  • Wayang Kancil
  • Wayang Rumput
  • Wayang Cepak
  • Wayang Jemblung
  • Wayang Sasak (Lombok)
  • Wayang Beber.

Wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan seni perlambang.

Meski begitu, wayang bukan hanya pertunjukan belaka, juga media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan, mengutip Kemdikbud RI.  

Terbukti, pada zaman dulu, wayang dipakai oleh para pendakwah untuk menyiarkan agama Islam. Tentu saja, tokoh-tokoh, cerita dan pesannya disesuaikan dengan agama Islam. 

Hingga saat ini wayang telah menjadi bagian dari budaya Tanah Air, dan terus  mengalami perkembangan yang dipengaruhi oleh agama, serta nilai-nilai budaya.[]