News

Segini Vonis dan Uang Suap yang Diterima para Staf Edhy Prabowo di Kasus Benih Lobster

Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhi vonis kepada para staf mantan Menteri KKP Edhy Prabowo.


Segini Vonis dan Uang Suap yang Diterima para Staf Edhy Prabowo di Kasus Benih Lobster
Sidang vonis kasus suap izin benih lobster (Tangkapan Layar/Youtube/KPK)

AKURAT.CO, Pengadilan Tipikor Jakarta memvonis bersalah Andreu Misanta Pribadi dan Safri dalam kasus ekspor benih lobster. Kedua staf khusus mantan Menteri KKP Edhy Prabowo itu divonis 4 tahun dan 6 bulan penjara serta denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan.

Keduanya terbukti bersalah menerima uang suap dari pengusaha eksportir benih bening lobster (BBL) atau benur bersama Edhy Prabowo.

"Mengadili, menyatakan, terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara masing-masing selama 4 tahun dan 6 bulan dan pidana denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan," ujar Hakim Ketua Albertus Usada di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (15/7/2021).

Hakim juga menjatuhkan vonis kepada Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy dan Ainul Faqih selaku staf pribadi Iis Rosita Dewi (istri Edhy Prabowo), serta Siswadhi Pranoto Loe selaku Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) dan pemilik PT Aero Citra Kargo (ACK).

Amiril Mukminin divonis 4 tahun dan 6 bulan serta denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan. Ainul Faqih divonis 4 tahun dan denda Rp 300 juta subsider 4 bulan kurungan. Siswadhi Pranoto Loe divonis 4 tahun dan denda Rp 300 juta subsider 4 bulan kurungan.

Hakim juga menjatuhkan hukuman tambahan kepada Amiril Mukminin berupa membayar uang pengganti senilai Rp 2.369.099.000. Jika Amiril tidak membayar hukuman diganti dengan kurungan penjara selama 1 tahun.

Dalam putusannya, Hakim mengungkapkan lima anak buah Edhy itu mendapat uang suap dari sejumlah eksportir benur. Adapun uang yang diterima mereka jumlahnya bervariasi.

Andreau Misanta terbukti menerima uang Rp 10.731.932.722 dari para eksportir benur. Safri terbukti menerima uang SGD 26 ribu dari Direktur PT DPPP Suharjito. Siswadhi Pranoto Loe terbukti menerima uang Rp 5.047.074.000. 

Selain itu, di rekening PT ACK milik Siswadhi juga masih terdapat sisa keuntungan benur senilai Rp 8.405.638.937. Keseluruhan jumlah uang yang diterima Rp 13.199.689.193.

Sementara, Amiril Mukminin menerima uang Rp 1.569.000.000 dan mendapat keuntungan Rp 25 per ekor benur yang diekspor PT ACK yang dijumlah senilai Rp 800 juta.

Kelima orang tersebut dinyatakan hakim bersalah melanggar Pasal 12 huruf a UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat 1 KUHP. []