Rahmah

Sedang Salat Kejatuhan Cicak, Apakah Salatnya Menjadi Batal?

Bisa membatalkan salat jika cicak yang jatuh didiamkan dalam waktu yang lama


Sedang Salat Kejatuhan Cicak, Apakah Salatnya Menjadi Batal?
Salat (pinterest.com)

AKURAT.CO  Tidak menutup kemungkinan ketika seseorang sedang melakukan salat kemudian kejatuhan cicak dari atas. Apalagi jika salat di tempat-tempat yang sedikit kumuh, yang bisa sangat mungkin munculnya banyak cicak.

Lalu, bagaimana jika seseorang sedang salat kemudian kejatuhan cicak? Apakah salatnya menjadi batal dan ia harus mengulang dari awal atau tidak perlu mengulangi salatnya?

Penjelasan dan jawaban pertanyaan tersebut dijawab dalam kitab Manhaj at-Thullab, karya Syekh Zakariya al-Anshari, halaman 481, sebagai berikut:

 قال: (لا) إن عرض (بلا تقصير) من المصلي كأن كشفت الريح عورته أو وقع على ثوبه نجس رطب أو يابس ( ودفعه حالا ) بأن ستر العورة ، وألقى الثوب في الرطب ، ونفضه في اليابس فلا تبطل صلاته ، ويغتفر هذا العارض اليسير 

Artinya: “Tidak batal jika baru datang pada orang yang shalat sesuatu yang membatalkan tanpa adanya tindak kecerobohan dari orang yang shalat. Seperti auratnya terbuka sebab terkena angin atau jatuh perkara najis mengenai pakaiannya, dan ia mencegahnya seketika itu juga dengan cara menutup auratnya, melepas pakaiannya pada najis yang basah dan membuang najis yang kering, maka shalatnya tidak batal. Dan hal yang bersifat baru datang yang sebentar ini ma’fu.” 

Dari pandangan di atas bahwa, jika cicak yang jatuh pada bagian tubuh seseorang itu segera disingkirkan maka tidak mengapa dan salatnya dapat dilanjutkan. Dan dengan syarat, seseorang tidak ceroboh atas cicak yang jatuh mengenainya, seperti sengaja memegang atau memijat-mijat cicak tersebut.

Dianggap tidak mengapa (di-ma'fu) juga ketika seseorang salat di tempat yang agaknya sulit untuk memghindari cicak, bisa karena banyak jumlahnya atau karena memang tempatnya yang kotor.

قال: (قوله ومكان يصلى فيه) أي وطهارة مكان يصلى فيه ويستثنى منه ما لو كثر ذرق الطيور فيه فإنه يعفى عنه في الفرش والأرض بشروط ثلاثة أن لا يتعمد الوقوف عليه وأن لا تكون رطوبة وأن يشق الاحتراز عنه 

Artinya: “Dan disyaratkan sucinya tempat yang dibuat shalat. Dikecualikan dari hal ini permasalahan ketika banyak kotoran burung di tempat tersebut. Maka kotoran ini dihukumi najis yang ma’fu ketika berada di tanah atau permadani (Jawa: lemek) dengan tiga syarat. Tidak menyengaja berdiam diri di tempat yang terdapat kotoran tersebut, kotoran tidak dalam keadaan basah dan sulit untuk dihindari.” (Sayyid Abu Bakar Syatho’, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 80).

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan seperti berikut; pertama, jika seseorang salat dan kejatuhan cicak, baiknya langsung dibuang/disingkirkan. Dengan begitu seseorang tak perlu mengulang salatnya; dan kedua, jika dengan sengaja menahan atau memainkan cicak saat salat, maka salatnya batal dan harus diulang. Wallahu A'lam.[]