Rahmah

Sedang Puasa Melakukan Vaksinasi, Apakah Batal?

Banyak Muslim gagal paham soal vaksinasi di bulan Ramadan ini.


Sedang Puasa Melakukan Vaksinasi, Apakah Batal?
Tenaga kesehatan bersiap menyuntikan vaksin Covid-19 dosis ketiga atau booster di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (3/4/2022) malam. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Vaksinasi menjadi salah satu hal yang sangat urgen untuk mengurangi bahkan membasmi penularan Covid-19. Sehingga pemerintah terus menggencarkan kegiatan ini hingga vaksin ketiga.

Demi memutus penularan virus ganas tersebut, bahkan pemerintah memutuskan agar orang-orang yang hendak mudik harus melakukan vaksin ketiga (booster) sebagai salah satu persyaratan perjalanan.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah melakukan vaksinasi saat sedang berpuasa dapat membatalkan puasa? Ataukah justru tidak sama sekali membatalkan?

baca juga:

Akurat.co melansir keterangan yang disampaikan NU Online, sebagai berikut;

إن كان بكم أذى من مطر أو كنتم مرضى أن تضعوا أسلحتكم [النساء: 102] فيه بيانُ الرخصةِ في وضْعِ الأَسْلِحةِ إنْ ثَقُل عليهمْ حَمْلُها بِسببِ مَا يَبُلُّهُم مِن مطرٍ أوْ يُضْعِفُهمْ مِن مرَضٍ وأمَرَهُمْ معَ ذلك بِأخذِ الحذْرِ لِئلا يَغْفَلوا فيَهجُمُ عليهمُ العدوُّ، ودلَّ ذلك على وُجوْبِ الحذرِ عن جميعِ المضارِّ المظنونةِ، ومِنْ ثَمَّ عُلِم أنَّ العلاجَ بالدواءِ والاحْترازَ عنِ الوباءِ والتحرُّزَ عن الجلوسِ تحتَ الجدارَ المائلَ واجبٌ.

Artinya: “(Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit) (al-Nisaa:102). Di dalam ayat ini adanya keringanan untuk meletakkan senjata saat para pasukan terbebani dengan bawaan, seperti dalam keadaan basah kuyup kehujanan atau karena sakit. Meskipun demikian mereka tetap harus waspada terhadap musuh. Ayat tersebut juga menunjukkan wajibnya menjaga kewaspadaan dari segala bahaya yang akan datang. Dari sinilah difahami bahwa berobat dengan obat dan menjaga diri dari wabah penyakit serta menghindari dari duduk-duduk di bawah dinding yang miring adalah wajib."

Terkait dengan injeksi di bulan puasa, Ibnu al-Hammam al-Hanafi dalam kitab Fathu al-Qadir (2/330) bahwa yang membatalkan puasa adalah sesuatu yang masuk lewat rongga yang lazim, seperti mulut, kubul, dan dubur. Dikatakan demikian:

(قَوْلُهُ وَلَوْ اكْتَحَلَ لَمْ يُفْطِرْ) سَوَاءٌ وّجَدَ ظَعْمَهُ حَلْقِهِ أَوْلَا لِأَنَّ الْمَوْجُودَ فِي حَلْقِهِ أَثَرُهُ دَاخِلًا مِنَ الْمَسَا مِّ وَالْمُفْطِرُ الدَّاخِلُ مِنْ الْمَنَا فِذِ كَا الْمُدْ خَلِ وَالْمُخْرَجَ لَا مِنْ الْمَسَا مِّ

Artinya: "(Ungkapan “Dan jika memakai celak maka tidak membatalkan puasa”) baik tenggorokannya dapat merasakan suatu makanan atau tidak, karena zat yang berada di tenggorokan adalah sisa-sisa yang masuk lewat pori-pori. Sedangkan, yang membatalkan puasa adalah sesuatu yang masuk lewat rongga yang terbuka seperti jalan masuk ke tubuh atau jalur keluar darinya, dan bukan dari pori-pori."

Melalui penjelasan di atas, vaksin di bulan puasa tidaklah membatalkan puasa. Selama tidak ada bahaya (dlarar). Ini juga sebagaimana fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) no 13 tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi Covid-19 Saat Berpuasa.

Demikian penjelasan tentang hukum melakukan vaksinasi pada bulan suci Ramadan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.[]