News

Secuil Cerita Dari Kamp Pengungsi Gempa Cianjur

Secuil Cerita Dari Kamp Pengungsi Gempa Cianjur
Kamp pengungsi bencana gempa bumi di Kampung Cihandam, Desa Kutawaringin, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur. (PB FMI)

AKURAT.CO Sore itu kami empat orang relawan Gempa Cianjur tengah perjalanan mengirim bantuan logistik sembako dari Bank Syariah Indonesia (BSI) dan BSI Maslahat ke sebuah lokasi kamp pengungsi bermedan sulit.

Lokasi yang dituju berada di perbukitan, jalan sempit dan berkelok-kelok. Ditambah kondisi hujan yang tak kunjung reda. 

Mobil dengan penggerak empat roda yang kami pergunakan kesulitan untuk masuk ke lokasi kamp. Kurang lebih 1 kilometer dari kamp, kami berhenti dan singgah di rumah Habib Idrus Bin Abdurrahman Alathos, pimpinan Majelis Safinatul Mukaromah. Bersilaturrahmi dengan beliau dan beberapa rekan relawan klub motor trail yang sedang beristirahat di sana.

baca juga:

Relawan pemotor asal Bogor itu menyarankan agar sembako bantuan yang kami bawa diantar menggunakan motor trail secafra estafet. Namun, mempertimbangkan jumlah dan bobot sembako ditambah kondisi tengah hujan, kami memutuskan untuk meninjau medan terlebih dahulu dengan berjalan kaki.

Berangkatlah dua orang anggota tim, saya dan Indra Hermawan menuju titik kamp pengungsi.

Jalanan yang menanjak, berlumpur, dan hari beranjak gelap, tak menyurut tekad dan semangat dua relawan yang hobi menjelajahi rimba dan gunung di seantero Indonesia tersebut.

Sekitar 30 menit keduanya tiba di kamp yang berlokasi di lapangan bola Kampung Cihandam, Desa Kutawaringin, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur. Belum usai menghela nafas, seorang gadis kecil menghampiriku di tengah guyuran hujan gerimis sore hari, disertai gemuruh petir. 

Wajah gadis kecil bernama Salsa itu nampak khawatir. 

*"Om, tadi ceunah aya gempa deui nyak (Om, tadi katanya ada gempa lagi ya)," ucapnya. 

"Gempana ceunah di Garut Om (gempanya katanya di Garut, Om)," sambung siswi kelas satu sekolah dasar itu dengan raut wajah sendu. 

Saya dan Indra hanya bisa saling berpandangan, karena sama sekali tak merasakan guncangan saat berjalan kaki menuju kamp. Benar, informasi dari BMKG telah terjadi gempa dengan magnituo 6,4 di Garut. 

Saya pun mengalihkan dengan mengajak Salsa ngobrol tentang kondsi keluarga dan lokasi tendanya, sembari menenangkannya. 

Sementara Indra berusaha mengontak anggota tim yang menunggu di rumah Habib  Idrus, via radio HT VHF. Setelah bertemu dengan Ketua Karang Taruna Cihandam, kami lanjut kembali ke rumah Habib Idrus. 

Koordinator Disaster Care (DSC) BSI Maslahat, Dedy Muhardi yang juga wakil kepala Pusat Jejaring Relawan EMT IDI dan Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Federasi Mountaineering Indonesia (Kapusdiklat FMI) berupaya menyetir pick up double cabin berpenggerak empat roda agar bisa mencapai kamp pengungsi. 

Medan jalan yang semakin licin ditambah beban logistik membuat perjalanan yang ditempuh tidaklah mudah. Diperlukan keahlian dan pengalaman mengemudi kendaraan berpenggerak empat roda bagi seorang relawan yang akan terjun ke lokasi tanggap darurat bencana. 

Bersyukur ada sahabat-sahabat off-roader dari Komunitas Jeep Jimny Katana Kanibal Bandung membantu menarik mobil kami menggunakan sling baja yang biasa dibawa para off - roader. Saat azan Magrib berkumandang, kami akhirnya bisa mencapai kamp. 

Para pengungsi dan relawan bergegas salat jamaah di musala darurat yang dibangun dari tenda. Kemudian, mereka bahu-membahu menurunkan sembako ke tenda logistik kamp. 

Salsa dan beberapa teman sebayanya menonton dari kejauhan. Nampak raut ceria di wajah mereka melihat jejeran belasan mobil offroad berbagai warna. Lelah, lapar dan mata yang sedikit mengantuk segera sirna melihat secercah keceriaan di wajah adik-adik itu.

Usai serah terima bantuan dan proses dokumentasi, kami mengatur konvoi belasan mobil offroad untuk turun kembali ke pos relawan di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang.

Balik menemui medan licin berlumpur dalam kondisi gelap, satu demi satu mobil relawan terjebak di tikungan jalan.

Kurang lebih tiga jam dihabiskan untuk menarik mobil-mobil yang terjebak dengan mengikatkan sling-sling baja di pohon dan ditarik menggunakan winch pada mobil masing-masing.

Pukul 22.30 rombongan akhirnya berhasil keluar dari medan sulit. 

Sedikit yang bisa diberikan, tapi semua itu kita baktikan demi bangsa, tanah air dan negara. Saudara - saudari kita masih memerlukan pertolongan. Adik kita Salsa dan ribuan anak sebayanya di belasan kamp pengungsi gempa Cianjur harus kita buat ceria kembali.

Fahmi Ramli, penulis merupakan Sekretaris Jenderal PB FMI; Kepala Pusat Jejaring Relawan EMT IDI