Ekonomi

Sebut PMN Selalu Bersifat Insidentil, Misbakhun Beri Contoh Proyek Kereta Cepat

Sebut PMN Selalu Bersifat Insidentil, Misbakhun Beri Contoh Proyek Kereta Cepat
Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun (AKURAT.CO/Sopian )

AKURAT.CO, Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Mukhamad Misbakhun menyoroti penggunaan penyertaan modal negara (PMN) yang menurutnya selalu bersifat sangat insidental dan terkesan seperti tanpa perencanaan strategis seperti apa untuk membangun Indonesia.

“Saya ingin mengukur apakah disini bapak sebagai kepala bappenas dilibatkan? Karena inikan kalau kita bicara prosedur tripartit menyusun APBN, apakah PMN ini pernah dibicarakan pada tingkat pembahasan tripartit? Ini pak yang jadi pertanyaan saya,” ujar Misbakhun dalam rapat kerja dengan Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa di Senayan, Jakarta, Kamis (3/2/2022).

Hal itu diungkapkan Misbakhun lantaran ia menilai PMN bisa berubah di dalam proses perjalanan APBN sedang berjalan, bukan di penyusunan awal-awal. Padahal, lanjutnya, ini menyangkut proyek strategis negara. Ia pun menyebutkan, ada salah satu PSN yang ketika ditengah jalan disumbang oleh PLN sehingga menurutnya hal itu yang kemudian menunjukkan lemahnya pemerintah Indonesia dalam membuat perencanaan, strategi jangka Panjang terhadap pembangunan.

baca juga:

“Apakah kita akan mempermalukan diri kita sendiri dengan situasi dan keadaan itu? Kita katakan punya PSN tapi perencanannya kemudian itu seakan-akan kita tidak punya strategi, bagaimana mungkin sebuah kereta cepat yang masuk program PSN kemudian ditengah jalan yang tadinya tidak melibatkan APBN kemudian jadi melibatkan APBN melalui mekanisme PMN?,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Misbakhun menambahkan bahwa dirinya juga tidak menemukan cetak biru untuk menyelamatkan Garuda Indonesia dari kebangkrutan, misalnya dengan perubahan format bisnis baru untuk bisnis penerbangan nasional. Padahal menurutnya, jika berbicara flag carrier nasional, pemerintah seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek keuntungan, tetapi lebih mengutamakan aspek branding atau memperkenalkan Indonesia ke dunia luar.

Berbicara flag carrier, sambung Misbakhun, hal itu bisa dilihat pada maskapai penerbangan Emirates dan Singapore Airline. Menurut dia, model bisnis kedua maskapai tersebut lebih bertujuan agar negara-negara lain mengenal Uni Emirates Arab dan Singapore ketimbang mencari keuntungan.

“Saya tidak menemukan itu. Kita chip in kepada Garuda Indonesia terus kemudian orang berbicara tentang kebangkrutan, kepailitan, seakan-akan kita tidak punya strategi bagaimana membangun industri penerbangan nasional yang berbasis kepada national carier flag,” tuturnya.

Politisi Partai Golkar itu pun menilai kesimpangsiuran pemerintah tersebut membuat DPR bingung bagaimana harus mendukung pemerintahan. Padahal, pihaknya berkomitmen mendukung dan mengawal pemerintahan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Sehingga kami harus membangun narasi baik, narasi yang elegan, yang bisa diterima nalar publik dengan penjelasan yang masuk akal. Tetapi kalau logikanya melompat-lompat, kami sendiri kan juga tidak bisa menjelaskan dengan baik ke masyarakat,” tukasnya.[]