News

Sebut Anies Gagal Urus Transportasi Jakarta, Gilbert: Kalau Cuma Bangun Fisik, Firaun Juga Bisa

Sebut Anies Gagal Urus Transportasi Jakarta, Gilbert: Kalau Cuma Bangun Fisik, Firaun Juga Bisa
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI-P, Gilbert Simanjuntak saat ditemui redaksi AKURAT.CO di Jakarta, Jumat (15/1/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinilai anggota DPRD DKI Gilbert Simanjuntak gagal memperbaiki transportasi di Jakarta. Politisi PDIP mengungkapkan indikasi kegagalan Anies itu terlihat dari kemacetan parah setelah Covid-19 mereda dan Jakarta pernah mendapat predikat terpolusi sejagat pasca Pandemi. 

"Narasi yang dibangun seakan transportasi berhasil dibenahi era 5 tahun Anies sebagai Gubernur adalah tidak sesuai kenyataan. Ukuran yang digunakan lebih ke arah pembangunan fisik seperti pengadaan alat transportasi, bukan pembangunan sistem yang berhasil dan paradigma di masyarakat," katanya dalam keterangannya, Selasa (27/9/2022). 

Ia lalu menyindir dengan pernyataan Anies yang populer saat Pilkada 2017 silam. 

baca juga:

"Mengutip kata-kata Gub Anies sendiri, kalau sekedar membangun fisik, Firaun juga bisa. Kenyataan yang ada Jakarta tidak macet hanya di periode awal Gubernur Anies menjabat karena lajur Bus TransJakarta (TJ) sudah selesai dan karena COVID selama 3 tahun," katanya. 

Dirinya lalu mengungkap pembangunan jalur bus Transjakarta era Gubernur Jokowi maupun Ahok. Tetapi, setelah proyek rampung, Anies mengklaim itu karyanya. 

"Di era Gubernur sebelumnya terjadi kemacetan luar biasa, misalnya jalur Kuningan, Rasuna Said ke Ragunan bisa 2-3 jam karena pembangunan lajur Bus TJ di semua lajur dan setelah selesai lalu diberi stempel seakan kerja Gubernur Anies. Ini penilaian tidak jujur," ungkapnya. 

Disisi lain, penambahan lajur, jumlah bus dan integrasi tarif saat ini belum menunjukkan hasil berupa transportasi lancar, atau mengurangi kemacetan secara signifikan. 

"Ukuran yang dipakai lebih ke ukuran antara (proxy), bukan hasil akhir (end point) atau dampak (outcome) berupa transportasi lancar, kemacetan teratasi atau polusi berkurang. Ukuran antara (proxy) yang digunakan seperti kenaikan jumlah penumpang setelah lajur Bus selesai dibangun, Jaklingko mobil kecil ke perumahan tapi suplai penumpang ke TJ tidak optimal, integrasi secara aplikasi yang masih uji coba dan ukuran lainnya," ungkapnya. 

Saat ini di penghujung era jabatannya Anies setelah COVID mereda, Jakarta mengalami kemacetan parah. Semua tahu Jakarta malah mendapat predikat kota terpolusi di dunia. Polusi itu sumbangan terbesarnya dari transportasi atau mobil dan motor. 

"Seharusnya Gubernur Anies bicara jujur, karena sewaktu puncak COVID-19, Anies pamer langit biru padahal karena masyarakat mobilitasnya jauh berkurang dampak pandemi, transportasi/jumlah mobil dan motor menurun. Sekarang menuding polusi dari daerah lain dengan mengatakan polusi tidak ber KTP. Padahal polusi itu diperparah karena kebijakan Anies yang ngawur berupa pelebaran trotoar dan jalur sepeda yang tidak berfungsi," ungkapnya. []