image image image image image image image image image image image image
Image

Hervin Saputra

Penulis adalah redaktur kanal olahraga Akurat.co.

Ego Tuan Rumah dan Reputasi SEA Games yang Kian Meragukan

Hervin Saputra

SEA Games

Image

Atlet asal Filipina, Clinton Kingsley Bautista (paling kiri), saat menyentuh garis finish sebagai pemilik medali emas nomor lari gawang 110 meter SEA Games Filipina 2019 di Stadion Atletik New Clark City, Clark, Filipina, Senin (9/12). | REUTERS/Athit Perawongmetha

AKURAT.CO, Suatu pagi di depan hotel tempat kami menginap di kawasan Guadalupe, Makati, Metro Manila, Filipina, seorang lelaki tua pemilik warung kelontong kecil bertanya kepada saya: “posisi berapa Indonesia di klasemen perolehan medali?”

Saya membeli kopi instan seduh seharga sepuluh peso (sekitar Rp2.800) di warung lelaki tersebut. Pertanyaannya jelas merupakan bagian dari percakapan untuk mencairkan suasana karena beberapa hari sebelumnya saya memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia yang datang ke Manila sebagai jurnalis untuk meliput SEA Games.

Saat itu, saya menjawab Indonesia berada di posisi ketiga. Dan saya menambahkan jawaban saya dengan mengatakan bahwa “Filipina memimpin klasemen perolehan medali.” Dengan singkat dan spontan, pemilik warung itu menjawab: “karena itu (SEA Games) digelar di sini.”

baca juga:

Saya membaca respons tersebut sebagai bentuk “setengah-pengakuan” terhadap dominasi tuan rumah Filipina dalam dominasi perolehan medali SEA Games 2019. Seakan-akan, lelaki tersebut ingin mengatakan bahwa Filipina memimpin perolehan medali hanya karena mereka sebagai tuan rumah.

Antusiasme Warga Filipina Saksikan SEA Games 2019. AKURAT.CO/Sopian

Apa yang terjadi di tabel klasemen di mana Filipina berada di posisi teratas sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan jika kita melihat kecenderungan SEA Games sejak hilangnya dominasi Indonesia, dan juga Thailand, dimulai dari SEA Games 2001 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Untuk kali pertama sejak kali pertama Indonesia turun di SEA Games pada 1977, SEA Games 2001 menghasilkan juara di luar Indonesia atau Thailand. Dan negara yang menjadi juara sudah selalu pasti tuan rumah seperti Malaysia pada 2001 dan 2017, Vietnam pada 2003, Filipina pada 2005 dan 2019, dan Indonesia pada 2011.

Adapun ketika SEA Games digelar di negara tuan rumah yang relatif tidak memiliki tradisi juara seperti di Laos pada 2009, Myanmar pada 2013, dan Singapura pada 2005, gelar juara selalu menjadi milik Thailand.

Sampai pada SEA Games ke-30 di Filipina 2019, kecenderungan itu menjadi semacam “kebiasaan” yang dianggap sudah menjadi normal. Seringkali, tanpa memperhitungkan aspek kompetitif dan pada akhirnya, membuat SEA Games, semakin tidak menarik.

Bahkan Filipina sendiri ketika mereka semakin yakin bahwa puncak tabel klasemen medali akan menjadi milik mereka ketika SEA Games 2019 baru memasuki hari ketujuh, mereka sudah bersiap untuk jatuh di luar posisi empat besar ketika perhelatan dilakukan di Vietnam pada 2021.

Petinju asal Indonesia, Kornelis Kwangu Langu (biru), meraih perak di kelas terbang-ringan SEA Games Filipina 2019. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo.

“Ketika kita pergi ke Vietnam dua tahun lagi, saya akan memprediksi, kita akan turun ke posisi keempat dan kelima,” kata mantan Ketua Komisi Olimpiade Filipina, Monico Puentevella, yang saat ini memimpin federasi angkat besi negaranya, sebagaimana dipetik dari ABS-CBN.

Puentevella menyatakan hal tersebut bersandar pada kenyataan di SEA Games 2007 di Thailand di mana mereka jatuh ke posisi keenam setelah menjadi juara umum saat menjadi tuan rumah dua tahun sebelumnya.

Situasi yang sama terjadi ketika Indonesia jatuh ke posisi keempat ketika SEA Games digelar di Myanmar pada 2013 setelah menjuarai SEA Games 2011 di Jakarta-Palembang. Thailand menjadi juara di edisi tersebut sementara tuan rumah Myanmar menempati posisi kedua sebagai capaian terbaik sepanjang sejarah keikutsertaan mereka.

Vietnam juga melorot ke posisi ketiga pada SEA Games Filipina 2005 setelah menjadi juara sebagai tuan rumah pada 2003. Sementara itu, Malaysia jatuh ke posisi keempat di Vietnam 2003 usai menjadi juara untuk kali pertama pada 2001 dan sepertinya harus puas dengan posisi kelima di Filipina 2019 setelah menjadi kampiun pada 2017.

Mengapa situasi ini bisa terjadi?

Keistimewaan Tuan Rumah

Keuntungan menjadi tuan rumah adalah berhak untuk menentukan cabang-cabang olahraga apa saja yang akan dipertandingkan. Keuntungan, sebagaimana yang digambarkan oleh mantan Ketua Komite Olimpiade Filipina, Cristy Ramos, sebagai “pemicu ego” yang baik untuk tuan rumah.

Tahun ini, Filipina mencuri start dengan merebut banyak emas pada cabang dance-sport dan olahraga beladiri khas Filipina yang dipertandingkan untuk kali pertama di SEA Games, arnis.

Di dua cabang ini saja, Filipina mendulang 24 emas: sepuluh di cabang dance-sport dan 14 di cabang arnis. Total, dua cabang tersebut menyediakan 33 medali emas.

Di sisi lain, Indonesia tak mengirim atlet di cabang dance-sport yang hanya diikuti oleh lima negara. Juga, Indonesia tak menempatkan wakil di cabang arnis yang hanya diikuti oleh empat negara.

Petinju asal Thailand, Thongkrathok Anavat (merah) dan petarung asal Malaysia, Azmi Khir Akyazlan. REUTERS/Eloisa Lopez.

“Kita tidak boleh nyaman pada kepuasan kita… Kita punya event yang belum pernah dimainkan sebelumnya di SEA Games,” ucap Puentevella.

Persoalan lain yang tampaknya semakin menjadi laten akibat “pemicu ego” tersebut adalah kebiasaan di mana pada sejumlah cabang olahraga yang tak terukur alias pemenang ditentukan oleh penilaian juri muncul sejumlah indikasi “ketidakobyektifan”.

Di cabang wushu, misalnya, juara dunia asal Indonesia, Edgar Xavier Marvelo, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mengetahui ia hanya berada pada posisi keempat untuk nomor taolu changquan ketika SEA Games baru memasuki hari kedua.

Sementara itu, di Philippines International Convention Center di Manila, Filipina, Senin (9/12), dua petinju Indonesia yang tampil di final kelas terbang-ringan, Kornelis Kwangu  Langu dan Endang, turun dari ring dengan wajah yang lunglai. Baik Kornelis dan Endang merasa juri berlaku tak adil di mana mereka kalah dengan skor 0-5 dari petinju tuan rumah.

“Saya bersedih, saya udah berjuang maksimal, tapi di saat pengumuman, poinnya 0-5, itu yang bikin saya kecewa. Kalau soal kalah, namanya permainan (ada) kalah-menang, cuma dia (juri) memberikan saya poin 0-5, itu yang bikin saya kecewa. Sama saja saya tak bertanding, saya tidak punya poin sama sekali,” kata Kornelis.

Dari kacamata penonton, sulit untuk menentukan bagaimana penjurian untuk cabang-cabang tak terukur tersebut. Karena bagi kebanyakan penonton yang mereka inginkan adalah tontonan serta berharap merasakan sensasi kemenangan pada atlet yang mewakil negara mereka.

Dan ketika keraguan terhadap kredibilitas penyelenggaraan event muncul dari atlet, maka Asia Tenggara sebenarnya bermasalah dengan penyelenggaraan pesta olahraga mereka. Untuk bersikap adil, kita juga harus mengingat bahwa kontingen Malaysia sempat mengeluhkan dominasi Indonesia di cabang pencak silat ketika Asian Games digelar di Jakarta-Palembang pada 2018.

Dampak Ego Pemerintah Berkuasa

Secara natural, slogan dalam penyelenggaraan event olahraga selalu mengandung pesan persaudaraan sebagai sesama warga dunia yang mewakil negara-negara. Tahun ini, Filipina mengusung “We Win As One” yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Kita Menang Sebagai Kesatuan”.

Namun demikian, kecenderungan negara tuan rumah untuk memastikan negaranya menjadi dominan sebenarnya telah menghancurkan daya kompetitif atlet mereka sendiri karena level kompetisi SEA Games semakin tak bisa dipertanggungjawabkan.

Benar bahwa sebagai tuan rumah mereka harus sukses menjadi juara. Namun, pengalaman di Filipina tahun ini menggambarkan bahwa tuan rumah sama sekali tidak sukses sebagai penyelenggara tetapi unggul dengan selisih lebih dari 50 medali emas dari negara peringkat kedua.

Suporter Vietnam dalam laga Tim Nasional U-23 mereka versus Indonesia di Stadion Rizal Memorial. REUTERS/Feline Lim.

Tak mengherankan bahwa lelaki tua pemilik warung di Guadalupe tak terlalu terkesan dengan perolehan medali negaranya sendiri. Juga pengendara mobil sewaan yang mengantarkan kami kian-kemari selama lebih dari dua pekan akhirnya mengakui ia tak tertarik dengan SEA Games ketika ia kebingungan mencari jalan menuju venue pertandingan sepakbola putra antara Indonesia dan Brunei Darussalam di kawasan luar Manila di Binan, Laguna.

What kind of SEA Games we had?” ucapnya.

Politisi pada akhirnya hanya menggunakan pergaulan sebagai sesama anggota Asia Tenggara untuk mendapatkan citra keberhasilan yang semu. Dan level kompetisi yang seharusnya bisa menjadikan SEA Games sebagai ajang untuk membawa negara Asia Tenggara menjadi lebih baik di ajang yang lebih besar seperti Asian Games serta olimpiade, tidak pernah tercapai.

Dalam sejarah Asian Games misalnya, hanya Thailand barangkali yang bisa dianggap memiliki pencapaian terukur sebagai salah satu negara juara SEA Games. Jika dihitung sejak mereka meraih peringkat empat ketika menjadi tuan rumah pada 1998, Thailand selalu berada dalam sepuluh besar kecuali pada posisi ke-12 di Jakarta-Palembang tahun lalu.

Tetapi tidak bagi Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Sejak berada di posisi ketujuh pada Asian Games Beijing 1990, Indonesia berada di luar sepuluh besar hingga mereka mendapatkan kesempatan sebagai tuan rumah untuk memanfaatkan pencak silat demi posisi keempat.

Farah Ann Abdul Hadi menyumbang tiga emas untuk Malaysia dari cabang senam SEA Games Filipina 2019. REUTERS/Eloisa Lopez.

Sementara Malaysia hanya bisa menapak ke posisi kesembilan di Hiroshima 1994 dan capaian terbaik mereka setelah itu adalah posisi kesepuluh di Guangzhou pada 2010. Sedangkan capaian terbaik Vietnam adalah posisi ke-15 sejak mereka pernah mencapai posisi kedelapan ketika Asian Games dihelat di Tokyo pada 1958.

Dan Filipina menunjukkan tren menurun sejak mereka mencapai posisi keenam di Seoul 1988. Dalam lima Asian Games terakhir, mereka tak pernah masuk ke dalam 15 besar.

Bagaimana dengan olimpiade?

Sejauh ini, baru Thailand, Indonesia, dan Vietnam yang bisa meraih medali emas. Thailand mengumpulkan sembilan emas, Indonesia tujuh emas, dan Vietnam satu emas.

Bagi pemerintah berkuasa, kesempatan menjadi tuan rumah di masa pemerintahan mereka berarti mereka akan meninggalkan warisan sejarah yang akan tercatat sepanjang masa. “Pemicu ego” pemerintah berkuasa itulah yang mendesain perhelatan untuk membuat negaranya menjadi pemenang.

Filipina sendiri, tanpa harus mengucilkan Filipina sebagai satu-satunya negara yang memiliki pemicu ego karena hal yang sama juga terjadi di Indonesia, Malaysia, dan Vietnam, agaknya menjadi titik ekstrem di mana yang mereka pedulikan hanyalah pundi-pundi medali emas ketimbang pelaksanaan kompetisi yang kompetitif untuk mengangkat kualitas olahraga di kawasan.

Mereka bahkan tidak siap untuk memastikan bahwa bendera bisa dikerek secara lancar saat pemutaran lagu kebangsaan Vietnam pada seremoni pengalungan medali cabang sepakbola putra di Stadion Rizal Memorial, Selasa (10/12).

Dua tahun lagi, SEA Games akan kembali ke Vietnam. Kita sepertinya tak perlu menebak-nebak siapa yang akan menjadi juara umum jika perilaku tuan rumah masih tetap seperti yang selama ini kita lihat dalam dua dekade terakhir.[]

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

Amerika-Spanyol, SEA Games, dan Malamnya Manila

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

Haven: Kosmopolitanisme Rumit dan Sederhana ala Manila

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

Manila: Sesaknya Jalanan dan Sejarah Perlawanan

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

PRSI Beri Bonus 520 Juta untuk Peraih Emas SEA Games

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

Warung Indo, Penyelamat Lidah Nusantara di Jantung Manila

Image

Sea Games

SEA Games Manila 2019

SEA Games Filipina 2019 Resmi Ditutup

Image

Sea Games

Indonesia U-23 0-3 Vietnam U-23

Asisten Pelatih Vietnam Akui Mereka Berlatih Bola Mati dengan Serius

Image

Sea Games

Indonesia U-23 0-3 Vietnam U-23

Indra Sjafri: Cedera Evan Dimas Pengaruhi Permainan Tim

Image

Sea Games

Indonesia U-23 vs Vietnam U-23

Suporter Vietnam Dominasi Stadion Rizal Memorial

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Sea Games
eSports

Sumbang Dua Perak, Manajer Timnas eSports: Hasil Terbaik yang Bisa Dipersembahkan Seluruh Official

Dua medali perak tersebut dihasilkan oleh Mobile Legends dan Arena of Valor

Image
Sea Games
eSports

SEA Games 2019 Filipina Resmi Berakhir, eSports Sumbang Dua Medali Perak

Gagal meraih medali yang ditargetkan oleh IeSPA

Image
Sea Games
SEA Games Manila 2019

SEA Games Filipina 2019 Resmi Ditutup

Dari total 267 medali yang dikantongi, Indonesia berhasil membawa pulang sebanyak 72 medali emas.

Image
Sea Games
SEA Games

Ego Tuan Rumah dan Reputasi SEA Games yang Kian Meragukan

Sejak SEA Games Kuala Lumpur 2001, prestasi tuan rumah yang menjadi juara umum merosot di SEA Games berikutnya.

Image
Sea Games
Indonesia U-23 0-3 Vietnam U-23

Asisten Pelatih Vietnam Akui Mereka Berlatih Bola Mati dengan Serius

“Kami melatih bola mati cukup sering dan itu bekerja baik. Dol datang dengan cepat dan smooth dan kami mampu menang,” ucap Lee Young-Jin.

Image
Sea Games
Indonesia U-23 0-3 Vietnam U-23

Indra Sjafri: Cedera Evan Dimas Pengaruhi Permainan Tim

Evan Dimas Darmono harus meninggalkan lapangan dengan kursi roda karena cedera.

Image
Sea Games

5 Potret Doan Van Hau saat Tersenyum, Pemain Vietnam yang Bikin Cedera Evan Dimas

Instagramnya diserbu fan Indonesia. Banyak cacian diarahkan kepadanya

Image
Sea Games
Indonesia U-23 0-3 Vietnam U-23

Timnas U-23 Ditundukkan Vietnam, Medali Emas Kembali Lepas dari Genggaman

Indonesia gagal mengulang sejarah pada 1991 silam, di mana kala itu Indonesia sukses merebut medali emas

Image
Sea Games
Bola Voli

Tundukkan Tuan Rumah, Timnas Voli Putra Sumbang Emas ke-72

Indonesia bahkan tidak pernah kehilangan satu set pun sejak babak penyisihan.

Image
Sea Games
Indonesia U-23 1-0 Vietnam U-23

Babak I: Doan Van Hau Bawa Vietnam U-23 Unggul Sementara Atas Timnas U-23

Gol Van Hau dicetak pada menit ke-39.

terpopuler

  1. Dari Kuli Bangunan hingga Bergelimang Harta, 8 Fakta Menarik Sosok Akbar 'Ajudan Pribadi'

  2. Basuki: Istana Mana? Mana? Tidak Ada Banjir, Saya Pukul 06.00 WIB di Sini

  3. Terkuak! NASA Berhasil Ungkap Temuan Mengejutkan di Bawah Permukaan Planet Mars, Ada Apa?

  4. Lebih dari Satu Dekade, Yuk Intip Kabar Terkini 5 Bintang Film Punk In Love

  5. Tetap Memesona di Usia 45 Tahun, 10 Potret Cantik Twinkle Khanna Istri dari Akshay Kumar

  6. Masyarakat Diminta Waspada Penipuan Mengatasnamakan Pertamina

  7. Satu Dekade Berlalu, 10 Drama Korea Ini Masih Berkesan di Hati Pemirsa, Ada Favoritmu?

  8. Wabah Virus Corona di Korsel Capai Hampir Seribu Kasus, Kondisi Daegu Kini bak Kota Mati

  9. Masa Jabatan Hakim MA dan MK Beda, Saldi Isra: Politik Hukum Apa Yang Sedang Dibangun Pemerintah?

  10. Raja Arab Saudi Jamu Pendeta Yahudi dari Israel untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah

fokus

Hutan Kecil Terarium
Target SDGs
Catatan 100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Memimpin Tanpa Menyalahkan

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Banjir Jakarta Menghanyutkan Elektabilitas Anies Baswedan?

Image
Achmad Fachrudin

Politik Dinasti, Oligarki dan Anomali Demokrasi

Image
Ujang Komarudin

Agama dan Pancasila

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kepala Perpusnas: Budaya Baca Bangsa Indonesia Tidak Rendah

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakornas Perpusnas, Penguatan Budaya Literasi Wajib untuk SDM Indonesia Unggul

Sosok

Image
News

5 Fakta Penting Maruli Simanjuntak, Komandan Paspampres Menantu Luhut Pandjaitan

Image
News

5 Fakta Karier Rian Ernest, Politisi Muda PSI yang Maju di Pilkada Batam 2020

Image
News

Tewas Saat Luncurkan Roket Buatannya, Ini 6 Fakta Menarik Penganut Bumi Datar Mike 'Mad' Hughes