News

Satpol PP Surabaya Ingatkan Pelaku UMKM Taati Aturan Jam Operasional

Satpol PP Kota Surabaya mengingatkan para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk tetap menaati aturan jam operasional selama Ramadhan


 Satpol PP Surabaya Ingatkan Pelaku UMKM Taati Aturan Jam Operasional
Petugas memeriksa suhu tubuh pengunjung pusat perbelanjaan di Lippo Mall Kuta, Badung, Bali, Jumat (20/3/2020). Pengelola pusat perbelanjaan yang terletak di salah satu kawasan destinasi pariwisata utama di Pulau Dewata tersebut melakukan penyesuaian jam operasional mal sebagai salah satu langkah untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

AKURAT.CO, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya mengingatkan para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk tetap menaati aturan jam operasional selama Ramadan.

Kasatpol PP Kota Surabaya, Eddy Christijanto mengatakan, sesuai Surat Edaran (SE) Nomor 443/3584/436.8.4/2021 Tentang Panduan Pelaksanaan Ibadah dan Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Selama Ramadan, UMKM khususnya rumah makan atau warung kopi diperbolehkan buka hingga pukul 22.00 WIB.

"Tetapi pukul 01.00 WIB boleh buka kembali untuk menyiapkan warga yang ingin membeli makan sahur," katanya di Surabaya, Sabtu,(17/4/2021).

Menurut dia, SE tersebut juga sesuai dengan Perwali Nomor 11 Tahun 2021 Penerapan Protokol Kesehatan Dalam Rangka pencegahan dan Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19 di Kota Surabaya.

"Ini juga selaras dengan apa yang disampaikan oleh Wali Kota Surabaya untuk membuka kran ekonomi selama pandemi," katanya.

Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara sebelumnya mengatakan sesuai SE yang ada untuk restoran atau rumah makan lainnya dapat menyediakan layanan buka puasa dengan tetap menerapkan prokes yang ketat, seperti pengunjung dibatasi 50 persen, mengatur jarak meja dan kursinya paling sedikit 1 meter.

Selain itu, lanjut dia, melakukan pengaturan kapasitas jumlah orang dalam tempat wudhu dan mushala yang disediakan untuk menghindari terjadinya kerumunan, mengoptimalkan sistem reservasi, dan menyediakan layanan pembayaran non tunai, apabila tunai harus makai sarung, mencuci tangan memakai air dan sabun atau peralatan cuci tangan mengandung alkohol (hand sanitizer).

"Yang paling penting pula camat atau lurah harus membantu melakukan pengaturan jarak antarlapak penjualan takjil di wilayahnya masing-masing," ujarnya. []

Sumber: Antara

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu