Rahmah

Santri Penghafal Al-Qur'an Tidak Mau Mendengarkan Musik Bukan Radikal, Memang Harus Fokus

Jangan mudah tuduh orang lain kafir atau radikal


Santri Penghafal Al-Qur'an Tidak Mau Mendengarkan Musik Bukan Radikal, Memang Harus Fokus
Santri tutup telinga (Tribun)

AKURAT.CO Viral video sejumlah santri penghafal Al-Qur'an, saat divaksin, ketika mendengar musik, mereka semua menutup telinga. Dalam video tersebut dikatakan mereka menutup telinga agar mereka fokus dengan suara-suara Al-Qur'an.

Namun sayangnya, video itu dikomentari oleh orang-orang yang tidak paham agama, dengan mengklaim sebagai tindakan radikal. Mereka dianggap radikal karena enggan mau menerima dan mendengar musik. Ini tentu klaim yang sangat mengada-ada.

Menghafal Al-Qur'an adalah kegiatan yang sangat mulia. Orang yang menghafal Al-Qur'an dianggap oleh Rasulullah sebagai umatnya paling terbaik. Disebut dalam Sunan ad-Darimi, sebagai berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ» قِيلَ: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ     

Artinya: “Sesungguhnya Allah subhanahu wata‘ala memiliki keluarga dari kalangan manusia. Ditanyakan kepada Nabi, siapakah gerangan , wahai Rasul ? Nabi bersabda: Ahli Al-Qur’an adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya,” (Abdullah al-Darimi, Sunan al-Darimi, Saudi: Dar al-Mugni li al-Nasyr wa al-Tauzi’ 2000).

Orang yang sedang menghafal Al-Qur'an, baiknya memang fokus, tidak menghabiskan waktunya untuk bermain, atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi sampai merusak hafalannya.

Abdullah Sarron, dalam kitab Tilawah Al-Qur'an Al-Majid, halaman 64, mengatakan demikian:

حامل القرآن حامل راية الإسلام لا ينبغي أن يلهو مع من يلهو ولا يسهو مع من يسهو ولا يلغو مع من يلغو تعظيما لحق القرآن   

Artinya: “Para penghafal Al-Qur’an adalah pembawa bendera Islam, tidak patut dia bermain bersama orang yang bermain dan lupa bersama orang yang lupa, serta tidak berbicara yang sia-sia orang lain karena untuk mengagungkan Al-Qur’an”.

Selain itu, Sayyidina Umar memberi suntikan motifasi kepada para “hamil” Al-Qur’an untuk selalu berlomba-lomba melakukan kebaikan dan tidak bergantung diri kapada orang lain. 

Disebutkan dalam kitab Kanzul Amal, ditulis oleh Ismail Umar Ali, halaman 18, sebagai berikut: