Rahmah

Sangat Cerdas! Begini Cara Abu Nawas Selesaikan Masalah Sahabatnya

Meskipun memiliki harta yang berlimpah, namun setelah menikah beberapa tahun lamanya, Abdul Hamid belum juga dikarunia seorang anak.


Sangat Cerdas! Begini Cara Abu Nawas Selesaikan Masalah Sahabatnya
Ilustrasi Abu Nawas (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Di negeri Persia, ada seorang saudagar kaya raya bernama Abdul Hamid Al-Kharizmi. Meskipun memiliki harta yang berlimpah, namun setelah menikah beberapa tahun lamanya, ia belum juga dikarunia seorang anak.

Sepanjang hari, Abdul Hamid selalu berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak. Hingga pada suatu ketika, ia bernazar akan menyembelih seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia.

Tak disangka-sangka, Allah SWT mengabulkan doaanya. Suatu hari, istrinya bernama Zazariah berteriak sambil memeluknya dan berkata,

"Wahai suamiku, aku sudah hamil. Ternyata Allah SWT sudah mengabulkan doa kita selama ini," kata sang istri.

Abdul Hamid merasa sangat bahagia mendengar perkataan istrinya.

Seiring dengan berjalannya waktu, tak terasa, suatu hari, istri Abdul Hamid melahirkan seorang anak laki-laki. Melihat sang istri sudah melahirkan, semua keluarga Abudul Hamid larut dalam kebahagiaan.  

Tak berselang lama, Abdul Hamid teringat akan nazar yang pernah ia katakan. Dengan beberapa pembantunya, ia langsung bergegas mencari seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia. 

Namun setelah beberapa hari mencari kesana-kemari, ia tidak juga menemukannya. Kali ini ia mulai gelisah karena takut dapat menunaikan nazarnya itu.

Di tengah-tengah kegelisahan itu, tiba-tiba saja ia teringat seorang sahabatnya di Negeri Bagdad yang terkenal akan kecerdasan dan kemampuannya dalam menyelesaikan banyak persoalan. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Abu Nawas. 

Abdul Hamid segera mengutus beberapa pembantunya untuk menemui dan membawa Abu Nawas kepadanya. Para utusan itu berangkat ke Bagdad menemui Abu Nawas, setelah beberapa hari perjalanan dan beberapa hari, akhirnya mereka sampai di rumah Abu Nawas. 

Setibanya di rumah Abu Nawas, para utusan itu menceritakan maksud kedatangan mereka. Abu Nawas lalu berkata,

"Baiklah, aku pamit pada keluargaku terlebih dahulu dan segera berangkat bersama kalian," kata Abu Nawas.

Abu Nawas kemudian berangkat bersama dengan anak buah Abdul Hamid. Sepanjang perjalanan, Abu Nawas terus memikirkan jalan keluar dari masalah sahabatnya Abdul Hamid.

Singkatnya, mereka tiba di rumah Abdul Hamid. Abu Nawas langsung disambut dengan jamuan makanan mewah. Setelah selesai maka, Abdul Hamid segera menceritakan masalah yang membuat hatinya menjadi galau itu.

"Berilah aku waktu semalam saja untuk berfikir. Besok pagi akan aku beri tahu caranya," kata Abu Nawas yang memang belum menemukan cara selama di perjalanan itu.

Tak terasa, hari sudah menjelang malam, Abu Nawas dalam keadaan lelah setelah menempuh perjalanan jauh itu diminta beristirahat di sebuah kamar tamu. Namun sudah tengah malam ini, Abu Nawas belum juga menemukan solusi untuk masalah tersebut. Tampaknya Abu Nawas sudsh sangat mengantuk. Di sela-sela rasa mengantuk yang semakin menghampirinya, tiba-tiba ia teringat sebuah cara untuk menyelesaikan persoalan sahabatnya itu. Setelah menemukan cara itu, barulah Abu Nawas dapat tertidur dengan pulas.

Esok harinya, Abu Nawas merencanakan sebuah kejutan untuk sahabatnya itu. Abu Nawas meminta pembantu Abdul hamid menyediakan seekor kambing biasa.  Setelah kambing disediakan, Abu nawas kemudian memanggil Abdul hamid beserta istrinya. Abu Nawas kemudian berkata,

"Wahai sahabatku, aku sudah menemukan kambing yang engkau cari selama ini, dan engkau dapat menunaikan nazarmu dengan segera menyembelih kambing ini," kata Abu Nawas.

Abdul Hamid kaget dan bingung ketika melihat kambing yang dimaksud Abu Nawas adalah hanya seekor kambing biasa, ia kemudian berkata,

"Wahai Abu Nawas, bukankan itu kambing biasa dan sama seperti kambing pada umumnya. Kambing ini tidak memiliki tanduk sebesar jengkal manusia," kata sahabatnya dengan wajah lesu dan mulai ragu.

Mendengar perkataan sahabatnya itu, Abu Nawas kemudian memintanya untuk membawa bayi laki-laki yang baru lahir itu kepada Abu Nawas. Setelah menerima bayi laki-laki itu, Abu Nawas lalu berkata,

"Wahai sahabatku, lihatlah bukankah tanduk kambing ini sebesar jengkal manusia?" kata Abu Nawas sambil meletakkan jengkal anak bayi itu pada tanduk kambing dan memperlihatkan pada Abdul Hamid beserta istrinya.

Melihat hal itu, Abdul Hamid dan istrinya mengerti. Kini mereka sudah sangat lega dan gembira karena telah berhasil menunaikan nazar mereka. Mereka kemudian berterimakasih kepada Abu Nawas karena telah membantu mereka melewati persoaalan yang rumit ini.[]