News

Sandera Bank 6 Jam Lebih, Pria Bersenjata di Lebanon Ini Malah Dipuja bak Pahlawan

Sandera Bank 6 Jam Lebih, Pria Bersenjata di Lebanon Ini Malah Dipuja bak Pahlawan
Drama penyanderaan bank di Beirut, Lebanon, berakhir setelah tersangka bersepakat dengan negosiator agar bisa mengambil Rp514 juta secara tunai dari saldo tabungannya. (REUTERS)

AKURAT.CO Seorang pria bersenjata di Beirut menyandera bank selama lebih dari 6 jam lantaran tak bisa mencairkan tabungannya. Namun, ia justru dipuja sebagai pahlawan oleh publik berkat aksinya itu.

Dilansir dari BBC, bank-bank di Lebanon telah menetapkan aturan ketat tentang berapa banyak uang yang dapat ditarik oleh warga. Pasalnya, negara itu tengah dibelit krisis ekonomi yang parah.

Tersangka memasuki bank dengan senapan, menuangkan bensin, dan meminta uangnya untuk membayar tagihan rumah sakit. Aksinya pun mendapat dukungan publik. Banyak warga berkumpul di luar dan meneriakkan, "Anda pahlawan."

baca juga:

Kebuntuan itu akhirnya selesai dengan damai tanpa ada yang terluka. Tersangka mencapai kesepakatan dengan negosiator agar bisa mengambil USD 35 ribu (Rp514 juta) secara tunai dari saldo tabungannya.

Polisi lantas mengawal para sandera dan tersangka dari cabang Bank Federal dekat Jalan Hamra di barat kota. Namun, belum jelas apakah pria itu akan dikenakan dakwaan.

Menurut LBC, keluarga tersangka sangat membutuhkan tabungan mereka karena beberapa anggota keluarga dirawat di rumah sakit.

"Saudara saya punya USD 210 ribu (Rp3 miliar) di bank dan hanya ingin mencairkan USD 5.500 (Rp80 juta) untuk membayar tagihan rumah sakit," ungkap saudara tersangka.

Berada di depan bank, istri dan saudara tersangka pun menentang kontrol ketat atas rekening bank.

"Setiap orang harus melakukan hal yang sama agar bisa mengakses 'hak mereka'," protes keduanya.

Lebanon tengah dibelit salah satu krisis terparah di dunia pada zaman modern. Dampaknya semakin terasa ketika biaya hidup melonjak dan ada kelangkaan gandum dan obat-obatan.

Kontrol ketat atas rekening bank masyarakat mulai berlaku di Lebanon pada 2019. Transfer uang ke luar negeri juga dibatasi. Tak pelak, banyak warga geram atas peraturan ini.

"Cabut aturan bank," seru demonstran di depan cabang bank.

Insiden serupa pernah terjadi pada Januari. Saat itu, seorang nasabah mengamuk dan menyandera puluhan orang di sebuah bank di lembah Bekaa. Ia menuntut agar uangnya bisa diambil dalam mata uang USD.

"Para nasabah menginginkan uang mereka. Sayangnya, karyawan bank menjadi sasaran ledakan amarah mereka lantaran tak bisa mencapai manajemen," keluh George al-Hajj, kepala serikat pekerja bank Lebanon.

Mata uang Lebanon telah kehilangan lebih dari 90 persen nilainya sejak awal krisis. Menurut PBB, empat per lima penduduknya hidup dalam kemiskinan.[]