Lifestyle

Sambut Imlek, Yuk Intip Sejarah Chinatown Glodok

Kawasan Chinatown atau biasa disebut Pecinan tersebar di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia


Sambut Imlek, Yuk Intip Sejarah Chinatown Glodok
Pembeli melihat pernak-pernik Imlek yang dijual di Kawasan Glodok, Jakarta, Senin (13/1/2020). Menjelang Tahun Baru Imlek penjualan pernak-pernik Imlek seperti lampion, angpao, gantungan kunci yang dijual Rp10 ribu - Rp500 ribu, mengalami peningkatan hingga 3 kali lipat. (AKURAT.CO/Dharma WIjayanto)

AKURAT.CO Kawasan Chinatown atau biasa disebut Pecinan tersebar di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Tentu saja, kawasan Chinatown mayoritas penduduknya adalah keturunan Tionghoa. Kawasan ini tampak sangat berbeda dengan wilayah sekitarnya sehingga Chinatown menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang bisa dikunjungi.

Salah satu Chinatown di Jakarta adalah kawasan Glodok di Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Masyarakat yang menghuni kawasan ini adalah keturunan pemukim Tionghoa yang tinggal selepas Perang China (1740-1743) di Jawa. Dan tentu saja, kawasan Glodok dipenuhi dengan bangunan khas Tionghoa, termasuk Kelenteng Toa Se Bio dan Vihara Dharma Bakti. Kedua tempat ibadah ini kerap dikunjungi  perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.

Asal usul nama Glodok

baca juga:

Ada dua versi terkait asal usul nama Glodok. Pertama, Glodok berasal dari bahasa Sunda "Golodog" yang bermakan pintu masuk rumah. Konon, sebelum menjadi Chinatown, kawasan ini dipercaya sebagai pemukiman orang Sunda. 

Sementara asal usul kedua dari nama Glodok adalah karena suara air pancuran di depan Balai Kota (Stadhuis) atau sekarang Museum Fatahillah. Ada yang menyebut pancuran tersebut digunakan sebagai tempat minum kuda.

Yang menarik, ada dua versi terkait asal usul yang satu ini. Beberapa orang menyebut nama Glodok berasal dari  suara 'glodok, glodok' dari sumber mata air pancuran tersebut. Ada juga yang menyebutnya beradal dari pancuran yang sering mengeluarkan suara grojok..grojok.

Sejarah Glodok

Pada awalnya kawasan Glodok adalah tempat isolasi etnis Tionghoa. Pada tahun 1740 etnis Tionghoa melakukan perlawanan terhadap Belanda dengan melakukan pemberontakan yang dikenal dengan sebutan Geger Pacinan. Akibat pemerontakan ini, ribuan etnis Tionghoa tewas. 

Adapun pemberontakan ini terjadi akibat terjadinya gesekan antara imigran dari China dengan pemerintah Hindia Belanda di Jakarta yang dulu bernama Batavia. Kondisi ini semakin parah saat terjadi penurunan harga gula dunia pada tahun 1720 akibat peningkatan kompetisi dan ekspor dari Hindia Barat. Hal ini sangat mempengaruhi ratusan imigran asal China di Batavia yang mayoritasnya berprofesi sebagai buruh pabrik gula.

Akibat pemberontakan ini, pemerintah Hinda Belanda memutuskan untuk melarang etnis Tionghoa tinggal bebas di kota. Keputusan ini tertuang dalam peraturan yang disebut dengan Wijkenstelsel. Meski terisolasi, kehidupan perekonomian etnis Tionghoa di Glodok semakin berkembang pesat. Hingga saat ini pun, selain dikenal sebagai Chinatown, kawasan ini menjadi salah satu pusat perbelanjaan murah di Jakarta.[]