Rahmah

Sambut Hari Santri, Menag Yaqut Harap Pesantren Mampu Cetak Ulama yang Ikuti Perkembangan Zaman

Menag Yaqut menyebut bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang asli dan hanya ada di Indonesia.


Sambut Hari Santri, Menag Yaqut Harap Pesantren Mampu Cetak Ulama yang Ikuti Perkembangan Zaman
Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII di Nusantara II, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Senin (18/1/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO  Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, pesantren merupakan sebuah lembaga yang identik dengan nilai-nilai keislaman dan sekaligus mengandung makna ke-Indonesiaan. Menag Yaqut juga menyebut bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang asli dan hanya ada di Indonesia.

"Kita tidak akan pernah menemukan pesantren di tempat lain, di negara lain itu tidak ada. Pesantren itu ya pasti di Indonesia," ujarnya dalam Webinar International: Santri Membangun Negeri 'Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya dan Revolusi Teknologi' pada Rabu (20/10/2021).

Menag Yaqut menambahkan, bahwa pesantren tidak hanya memerankan peran-peran tradisional, seperti mentransmisikan ilmu-ilmu keislaman, memelihara tradisi keislaman atau mereproduksi ulama. Tetapi juga penting untuk mencetak ulama-ulama yang kompatibel dengan perkembangan zaman.

"Juga penting untuk mencetak ulama yang memiliki peran atau bisa berperan dalam pusat-pusat pembangunan yang berbasis masyarakat. Karena pesantren selalu hidup di tengah masyarakat," tutur pria kelahiran Rembang Jawa Tengah itu.

Lebih lanjut lagi Menag Yaqut menjelaskan dalam kurun waktu terakhir, sejarah telah mencatat bahwa pesantren mampu mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu. Bahkan pesantren memiliki peran penting dalam kemerdekaan negara Indonesia.

"Negeri ini tidak akan mungkin merdeka jika tidak ada pesantren," jelas mantan Ketua Umum PP GP Ansor tersebut.

Begitu juga dengan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tahunnya, menurut Menag Yaqut, hal tersebut merupakan bagian dari cerminan bagaimana pesantren memiliki kontribusi yang luar biasa terhadap negara Indonesia. Di mana, pada 22 Oktober 19945 terdapat Resolusi Jihad yang dulu dikumandangkan oleh Hadratusyaikh Hasyim Asy'ari. Resolusi Jihad merupakan komando kepada para santri untuk menghadang tentara pada waktu yang ingin berkuasa dan kembali menjajah Indonesia.

Dengan begitu, lanjut Menag Yaqut menyampaikan bahwa pesantren telah mampu survive, sekalipun masyarakat terus mengalami perubahan karena modernisasi dan globalisasi. Karena dunia pesantren dituntut untuk tidak hanya responsif terhadap perubahan-perubahan yang ada, tetapi juga disaat yang sama harus mampu mempertahankan nilai-nilai, karakter dan tradisi pendidikan yang selama ini ada di pesantren. []