Rahmah

Salim Maula Abu Hudzaifah, Seorang Hafidz yang Mendapat Syahid di Medan Pertempuran

Salim merupakan bekas budak yang telah dimerdekakan oleh tuannya, Utbah bin Rabiah yang putra dari tokoh kafir Quraisy.


Salim Maula Abu Hudzaifah, Seorang Hafidz yang Mendapat Syahid di Medan Pertempuran
Ilustrasi Sahabat Nabi (BSM Umat)

AKURAT.CO  Rasulullah SAW pernah bersabda, "Mintalah dibacakan (diajari) Al-Qur'an dari empat orang, yaitu : Abdullah bin Mas'ud, Salim Maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka'b dan Mu'adz bin Jabal." 

Dalam sabda tersebut, Rasulullah SAW menyebut nama Salim maula Abu Hudzaifah. Diketahui, Salim merupakan bekas budak yang telah dimerdekakan oleh tuannya, Utbah bin Rabiah yang putra dari tokoh kafir Quraisy.

Utbah sendiri telah memeluk Islam sejak awal. Setelah itu, ia segera membebaskan Salim sebagai budaknya, lalu mengikat persaudaraaan dengannya. Tak hanya itu, ia juga yang menikahkan Salim dengan keponakannya yang juga memeluk Islam, Fathimah binti Walid bin Utbah, untuk lebih mempererat tali persaudaraannya tersebut. 

Hingga pada saat terjadi pertempuran Yamamah melawan pasukan kaum murtad yang dipimpin seorang nabi palsu Musailamah al Kadzdzab, kala itu pasukan muslim sempat mengalami kekalahan. Sementara, pasukan pertama yang dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal telah kalah, pasukan kedua juga sempat kocar-kacir, sehingga yang ditunjuk memimpin pasukan adalah Khalid bin Walid.

Saat menjadi komandan pasukan, Khalid merubah strategi pertempuran dengan membagi pasukan sesuai kabilah dan golongannya masing-masing. Khalid lalu menugaskan Salim untuk memegang panji kaum Muhajirin. 

Akan tetapi, beberapa orang sepertinya meragukan semangat juangnya, dan akan goncang dari kedudukannya sebagai pemegang panji. Karena kedudukannya hanyalah seorang maula yang sangat lemah, mereka khawatir musuh akan memfokuskan diri menyerang kaum Muhajirin.

Karena mendapat respon yang kurang baik ini, Salim, yang diberi gelar 'Pendukung Al Qur'an' oleh Rasulullah SAW, berkata dengan tegas, "Seburuk-buruknya pendukung Al-Qur'an adalah aku, jika kalian diserang karena aku!"

Diketahui, pasukan Musailamah dan bani Hanifah memang cukup hebat sehingga mampu memporak-porandakan pasukan Muslim beberapa kali. Karena serangan tersebut, beberapa pasukan Muslim menjadi gentar, bahkan sebagian diantaranya ada yang berlari mundur. 

Melihat pasukan Muslim yang semakin terdesak itu, Salim dan Tsabit bin Qais, pemegang panji kaum Anshar berkata, "Kami tidak berperang seperti ini pada zaman Rasulullah SAW…"

Kedua sahabat itu lalu menggali lubang sebatas lutut dan berdiri di dalamnya sehingga tidak mungkin mundur menahan serangan musuh dengan semangat yang membara. Tindakan yang mereka lakukan ini ternyata mampu membangkitkan semangat pasukan Muslim lainnya. Mereka berangsur bangkit dari ketertinggalan, sehingga mampu mengalahkan pasukan Musailamah al Kadzdzab.

Sementara itu, Salim mendapat keadaan sekarat dengan kaki masih terpendam sebatas lutut. Pada saat pasukan Muslim ingin melepaskan kakinya dari lubang dan akan membaringkannya, ia sempat berkata, “Bagaimanakah keadaan Abu Hudzaifah?”

“Ia telah menemui syahidnya!!” jawab salah seorang pasukan Muslim.

“Baringkanlah aku di sebelahnya,” kata Salim, seolah-olah menjadi permintaan terakhirnya.

Atas permintaan tersebut, para pasukan Muslim segera mengangkat tubuh Salim dan membaringkannya di dekat jenazah Abu Hudzaifah. Kemudian salah seorang berkata, “Ini dia Salim, engkau telah berbaring di sampingnya, ia telah menemui syahidnya di tempat ini…!!”

Terlihat senyum mengembang di mulut Salim ketika mendengar penjelasan itu. Kemudian tak lama setelah itu, Salim menemui syahidnya menyusul saudara dan mantan tuannya itu. Subhanallah. []