News

Salat dengan Pakaian Terkena Air Mani, Bolehkah?


Salat dengan Pakaian Terkena Air Mani, Bolehkah?
Ilustrasi salat sebagai amal ibadah yang utama (Rawpixel)

AKURAT.CO, Perkara salat tentu harus diketahui secara komprehensif mulai dari bagaimana syaratnya, rukunnya, sunahnya serta hal-hal yang membatalkannya. Sebab, salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam.

Kali ini, kita akan membahas tentang air mani yang menempel di pakaian karena sering kali disalahpahami oleh sebagian orang. Sebagian mengatakannya najis, sebagian lagi mengatakannya suci.

Mengenai air mani yang menempel di pakaian, memang terdapat perbedaan pandangan di antara para ulama empat mazhab.

Pendapat pertama, Imam Malik, Abu Hanifah, Tsauri, dan Auza’i menyatakan bahwa air mani atau sperma hukumnya najis sehingga jika mengenai pakaian atau anggota badan lainnya harus disucikan.

Abu Hanifah lebih lanjut memberi keterangannya bahwa apabila sperma tersebut sudah kering maka cara menyucikannya cukup dikerok saja. Sedangkan menurut Imam Malik dan Auza'i cara menyucikannya dengan dicuci atau dibasuh baik mani tersebut sudah kering atau masih basah.

Pendapat yang pertama ini disandarkan pada sebuah hadis dari Aisyah ra bahwa ia berkata, "Aku mengerik mani dari pakaian Rasulullah saw jika ia kering, dan mencucinya (membasuhnya) jika ia basah." (HR Daruquthni).

Pendapat kedua, Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Sufyan al-Tsauri, Ibnu Hazm, dan Daud al-Dzahiri menegaskan bahwa sperma itu suci.

Pandangan ini disandarkan pula pada hadis dari Aisyah yang memiliki redaksi hampir mirip dengan hadis pertama tadi.

Dari Aisyah ra ia berkata, "Aku mengerik mani dari pakaian Rasulullah saw, kemudian ia salat dengan pakaian itu." (HR. Jama’ah, kecuali Imam Bukhari).

Berdasarkan hadis di atas, para ulama berpendapat bahwa digunakannya pakaian yang sudah terkena air mani oleh Rasulullah menunjukkan bahwa benda tersebut suci.

Selain itu, pendapat yang kedua ini menyatakan apabila mani hukumnya najis maka cara menyucikannya tidak cukup dengan mengerik melainkan harus dicuci sebagaimana najisnya darah dan lain sebagainya.

Lebih dari itu, air mani hukumnya suci karena dari cairan itulah manusia diciptakan sehingga jika ia najis, bisa dikatakan manusia juga najis.

Wallahu a'lam.[]