Rahmah

Salah Satu Gagasan Azyumardi Azra: Muhammadiyah Bukan Salafisme Wahabiyyah

Salah Satu Gagasan Azyumardi Azra: Muhammadiyah Bukan Salafisme Wahabiyyah
Azyumardi Azra (AKURAT.CO/Lufaefi)

AKURAT.CO Prof Azyumardi Azra dikenal sebagai cendekiawan muslim sekaliber dunia. Pemikirannya mengglobal dan membuat banyak orang berdecak kagum dengan gagasan dan idenya.

Seperti diketahui, Prof Azra wafat pada Minggu (18/9) di Rumah Sakit di Malaysia. Prof Azra -salah satu pandangannya mengenai Muhammadiyah - menyatakan bahwa salafi Muhammadiyah bukan salafi Wahabi.

Menurut beliau, dikutip dari website Muhammadiyah.id, Muhammadiyah bukan salafisme wahhabiyah. Salafisme di Muhammadiyah tidak merujuk kepada salafisme Abduh yang menekankan rasionalitas, salafisme Ibn Taimiyah yang polemis, ataupun salafisme Ibn Abdul Wahhab yang reaksioner dan pro kekerasan.

baca juga:

Sebab itu menurut Azra, meskipun identitas Muhammadiyah adalah salafisme, tapi pemikiran keagamaan Muhammadiyah bukanlah salafisme yang memaknai Alquran dan Sunnah secara simbolis/harfiah (tekstual) seperti mencontoh bagaimana Nabi makan, Nabi berpakaian, atau Nabi berpenampilan.

Salafisme Muhammadiyah menurut Azra adalah Salafisme Wasathiyah, yaitu sebuah pemahaman memurnikan akidah, namun tetap berkarakter wasathi (tengahan/moderat) sesuai dengan realitas historis dan realitas sosio-religius masyarakat Islam di kawasan Nusantara.

Menurut Prof Azra, Salafisme Wasathiyah jelas berbeda dengan Salafisme Wahhabi. 

“Salafisme Wasathiyah jelas berbeda dengan Salafisme Wahhabi, yang tidak hanya literal pada tingkat doktrin, tetapi juga radikal dalam praksis dan aksi. Sejarah Islam di Indonesia membuktikan, Salafisme Wahhabi yang radikal tidak pernah bisa menanamkan akarnya dan bahkan istilah wahhabisme menjadi semacam anathema (istilah yang tidak disukai) bagi kaum muslim di kawasan ini,” katanya.

“Jika Muhammadiyah ingin tidak hanya menjadi ‘penonton’ di tengah perubahan yang begitu cepat dan far-reaching sekarang ini, maka revitalisasi ijtihad merupakan agenda yang mendesak. Namun jelas pula, revitalisasi ijtihad sangat tergantung pada Muhammadiyah sendiri untuk dapat memberikan ruang gerak kepada imajinasi, wacana, dan praksis kreatif kepada jamaahnya. Sikap reaksioner yang berlebihan hanyalah akan membelenggu, dan pada gilirannya ijtihad sulit teraktualisasikan,” pungkas Azra.[]

Sumber: Muhammadiyah