Rahmah

Salah Sasaran! Begini Jadinya Jika Remehkan Seorang Abu Nawas, Malu Sendiri Deh 

Suatu hari, Abu Nawas ditangkap oleh beberapa prajurit karena dianggap telah membohongi mereka.


Salah Sasaran! Begini Jadinya Jika Remehkan Seorang Abu Nawas, Malu Sendiri Deh 
Ilustrasi Abu Nawas (Pecihitam)

AKURAT.CO  Suatu ketika, saat sedang bersantai di depan rumahnya, tiba-tiba datang beberapa prajurit datang menghampirinya. Tanpa permisi dan mengucap salam, mereka bertanya kepada Abu Nawas.

"Wahai Pak Tua, apakah di sekitar sini ada tempat untuk bersenang-senang?" tanya seorang diantara mereka yang ternyata Komandan prajurit tersebut.

"Kalau tidak salah di sebelah sana," jawab Abu Nawas dengan menunjuk ke arah depan.

"Wahai Pak Tua, di manakah tempat itu?" tanya prajurit lainnya seperti tidak menghargai. 

"Pergilah ke arah sana, lurus tanpa belok-belok, maka kalian akan menjumpai tempat yang ditanyakn kalian," jawab Abu Nawas. 

Tanpa membuang-buang waktu, para prajurit itu akhirnya pergi menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh Abu Nawas. Akan tetapi setibanya di tempat itu, mereka kaget karena tidak ada tempat yang dinginkan, karena disitu hanya ada sebuah kompleks kuburan yang luas. Hal tersebut tentu saja membuat para prajurit itu kesal, mereka menganggap jika Abu Nawas telah menipu mereka. Lantas mereka kembali lagi ke tempat Abu Nawas. 

"Wahai Pak Tua, keluarlah. Kenapa engkau berani sekali membohongi kami?" tanya sang Komandan yang sejak awal tidak menyadari jika yang diajak bicara adalah Abu Nawas, yang merupakan penasehat Kerajaan. 

"Berani sekali membohogi kami. Siapakah dirimu ini" tanya salah seorang prajurit yang sudah sangat geram.

"Aku adalah abdi," jawab Abu Nawas, yang terkesan hanya asal bicara. 

Komandan dan para prajurit itu semakin dibuat geram dan marah. "Prajurit...tangkap dia!" perintah komandan kepada anak buahnya itu.

"Atas perbuatanmu, engkau akan aku bawa ke Panglima kami," bentak komandan kepada Abu Nawas. 

Hingga kemudian Abu Nawas dihadapkan ke panglima kerajaan. 

"Wahai Panglima, kami telah menangkap seorang pembohong yang berani membohongi pasukan kerajaan," lapor Komandan itu kepada Penglima.

Namun sesautu yang tidak diduga-duga terjadi, Panglima itu justru bersikap biasa saja seperti tidak merasa kaget sama sekali. Panglima itu justru memerintahkan kepada prajuritnya untuk melepaskan borgol di tangan Abu Nawas. Dengan perintah itu, Komandan dan anak buahnya merasa heran.

Kemudian Panglima itu mendekati Abu Nawas. "Wahai Tuan Abu Nawas, maafkan perbuatan anak buahku ini ya," tutur Panglima itu dengan sangat sopannya. 

Ternyata Panglima dan Abu Nawas sudah saling mengenal satu sama lain. Mereka sering bertemu ketika sang Baginda Raja Harun Ar-Rasyid mengundangnya ke istana kerajaan.

Melihat hal itu, betapa terkejutnya sang komandan dan para prajuritnya. Perasaan sombong dan congkak yang sejak awal menyelimuti seakan berubah menjadi rasa takut yang mereka rasakan.

"Wahai Tuan Abu, sebenarnya kebohongan apa yang mereka tujukan kepadamu?" tanya Panglima dengan nada halus.

"Wahai panglima, mereka telah memintaku untuk menunjukkan tempat untuk bersenang-senang, tentu saja aku tunjukkan kuburan karena kuburan adalah tempat yang lebih baik bagi orang-orang yang taat kepada Allah SWT. Disitu dia akan mendapatkan hidangan yang nikmat dari Allah SWT, terbebas dari rasa fitnah dan kejahatan manusia dan makhluk lainnya," jawab Abu Nawas serius. 

Panglima hanya tersenyum mendengar penjelasan Abu Nawas. Komandan dan para prajuritnya lantas buru-buru mendekati Abu Nawas. 

"Wahai Tuanku Abu Nawas, Maafkan hamba dan prajuritku ini" katanya.

"Jika saja aku mengetahui bahwa tuan adalah Tuan Abu Nawas, tentu kami tidak akan berani membawa Tuan ke hadapan Panglima," tambah Komandan itu.

"Wahai Komandan, apakah aku telah membohongi kalian? Bukankah aku berkata benar? Aku adalah abdi, dan setiap orang adalah Abdi Allah SWT, termasuk kalian semuanya," jelas Abu Nawas. 

"Anda benar Tuanku Abu Nawas...," jawab komandan itu begitu malunya. []