News

Sakit Gigi, Harimau Sumatra 'Jumilah' Jalani Pemeriksaan 3 Jam di Kebun Binatang Australia

Harimau betina bernama Jumilah itu sedang menjalani pemeriksaan kesehatan di rumah sakit (RS) satwa liar di Kebun Binatang Taronga, Sydney.


Sakit Gigi, Harimau Sumatra 'Jumilah' Jalani Pemeriksaan 3 Jam di Kebun Binatang Australia
Tim dokter hewan di Kebun Binatang Adelaide, Australia juga sebelumnya melakukan pemeriksaan kesehatan Harimau Sumatera berusia 18 tahun bernama Tuan (Adelaide Zoo)

AKURAT.CO, Baru-baru ini, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan mengunggah sebuah video menarik tentang harimau Sumatra yang tergolong langka. Video itu diunggah di Twitter dan memperlihatkan seekor harimau Sumatra yang dicek oleh dokter. Di antara yang dicek termasuk gigi si harimau.

Dijelaskan Quinlan, harimau betina bernama Jumilah itu sedang menjalani pemeriksaan kesehatan di rumah sakit (RS) satwa liar di Kebun Binatang Taronga, Sydney.

Tak lupa, Quinlan menceritakan bahwa pengecekan Jumilah adalah bagian dari konservasi harimau Sumatra di kawasan Australasia.

"Jumilah, harimau betina, pemimpin kawanan harimau Sumatra di Kebun Binatang Taronga, Sydney, baru-baru ini menjalani pemeriksaan kesehatan - tugas yang cukup berat untuk tim di RS satwa liar itu. Sejak 1980, 21 harimau Sumatra lahir di @tarongazoo sebagai bagian dari program pengembangbiakan regional Australasia," cuit Quinlan pada Selasa (6/4) hari ini.




Proses pengecekan Jumilah itu sendiri sebenarnya berlangsung pada Februari lalu.

Sebagaimana diwartakan COVID-19 survivelguide pada 11 Februari, Jumilah yang berusia 17 tahun menjalani pemeriksaan rutin selama tiga jam lamanya. Selama tiga jam itulah, Jumilah menjalani serangkaian pemeriksaan intensif dari dokter. Di antaranya termasuk rontgen dan pemeriksaan darah.

Namun, dari serangkaian pemeriksaan itu, Jumilah menjalani operasi khusus. Itu tidak lain adalah prosedur pencabutan gigi. Prosedur itu dilakukan setelah penjaga mengetahui bahwa Jumilah mengalami patah gigi.

Untuk mengatasi sakit gigi Jumilah itu, dokter pun sampai butuh waktu operasi hingga 40 menit lamanya. Operasi ini juga sampai harus dipimpin oleh dokter hewan senior Taronga, Larry Vogelnest.

Operasi gigi dan pengecekan untuk Jumilah memang harus dilakukan secara intensif dan hati-hati. Mengingat tidak hanya statusnya yang langka, tapi juga Jumilah sudah berusia sangat tua.

Beruntung, operasi itu dilaporkan berlangsung dengan baik dan lancar. Meskipun para dokter harus bekerja lama duduk di kursi sembari terus mengawasi Jumilah yang sudah terbujur kaku karena dibius.

Dalam keterangannya, Vogelnest menjelaskan bahwa Jumilah mengalami masalah pada gigi molarnya. Dijelaskan pula bagaimana gigi molar Jumilah itu sudah sangat retak. Karena inilah, Jumilah sempat susah makan selama beberapa minggu.

Namun sampai saat ini, Vogelnest dan petugas kebun binatang belum mengetahui mengapa gigi belakang Jumilah itu bisa rusak.

"Dalam beberapa minggu terakhir, penjaga melihat dia mengalami kesulitan makan dan menduga ada masalah, yang ternyata adalah gigi molar yang patah.

"Itu adalah gigi yang cukup besar di bagian belakang dan retak parah, kami tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi... Prosedurnya lama tapi berjalan lancar," ungkap Vogelnest.

Setelah operasi rampung, Jumilah langsung dibawa ke rumahnya di Kebun Binatang Taronga. Penjaga karnivora, Rebecca Baldwin, juga mengonfirmasi bahwa Jumilah telah lulus pemeriksaan kesehatan meski ada gigi yang hilang karena dicabut.

"Kesehatan gigi sangat penting bagi semua hewan kita, dia dalam kondisi yang sangat baik untuk usianya, karena (umur) harimau yang hidup di alam liar hanya sekitar 12 (tahun).

"Kami akan memberinya makanan lunak untuk beberapa hari ke depan saat jahitannya sembuh, dan dia akan mendapatkan banyak bonus yang akan dia sukai," kata Baldwin.

Seratus tahun yang lalu, diperkirakan terdapat sekitar 100 ribu harimau Sumatra liar. Namun, saat ini jumlahnya menyusut tajam dan diperkirakan hanya tersisa 400 ekor, seperti dikuti dari Adelaide Zoo.

Populasi hewan liar itu pun berkurang dengan cepat karena perusakan habitat akibat perkebunan kelapa sawit hingga perburuan untuk perdagangan satwa liar ilegal.[]