Ekonomi

Saham dan Inflasi Rontok Bikin Ekonomi AS Mulai Dihantui Resesi

Ini tak terlepas akibat adanya konflik Rusia-Ukraina, China Lockdown, sampai sentimen pasar yang cenderung negatif


Saham dan Inflasi Rontok Bikin Ekonomi AS Mulai Dihantui Resesi
Bendera Amerika Serikat (AFP)

AKURAT.CO, Ekonomi Amerika Serikat (AS) saat ini sedang memasuki kondisi kalut, dimana resesi bisa menjadi ancaman yang menyelimuti negara tersebut. Tanda-tanda resesi tersebut sudah semakin terlihat dengan The Fed yang beberapa waktu lalu menaikan suku bunganya akibat inflasi yang tidak berkesudahan.

Dilansir dari CNN Bussines Rabu (18/5/2022), kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed untuk menekan lonjakan harga yang disebabkan harga mulai melonjak tinggi serta tingginya pinjaman AS saat ini, yang menjadikan negara paman sam tersebut terkena imbas perlambatan ekonomi yang cukup signifikan.

Dengan menaikkan suku bunga kemarin, The Fed dinilai sudah terlambat karena inflasi sudah menghantui sejak 2021. Menjadikan bank sentral AS juga perlu mengejar ketertinggalan yang ada serta mengambil tindakan yang jauh lebih besar dari menaikan suku bunga seperti yang dilakukan tahun lalu.

baca juga:

Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan bulan ini bank sentral AS akan terus menaikkan suku bunga 0,5 poin persentase pada akhir setiap pertemuan sampai inflasi terkendali. Lalu, The Fed akan terus menaikkan suku bunga 0,25 poin untuk sementara waktu.

Selain itu, yang menjadi kekhawatiran negara adidaya itu saat ini adalah banyaknya aksi jual di pasar saham akibat kurangnya kepercayaan juga menjadi tanda resesi. Setelah mencapai rekor tertinggi pada awal Januari, pasar saham telah kehilangan amblas seperlima dari nilainya.

Kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga yang tinggi ini menjadikan keuntungan perusahaan akan terkikis, akibatnya investor pun mencari jalan keluar yang menjadikan sentimen negatif oleh konsumen ke perusahaan. 

Tanda-tanda resesi AS selanjutnya ialah obligasi mulai tidak menarik bagi para investor. Padahal, apabila saham sedang tidak bagus, biasanya mereka berpindah ke obligasi. Akan tetapi kali ini hal itu justru tidak terjadi.

Invasi Rusia ke Ukraina juga menjadi sebab resesi akan datang karena membuat rantai pasokan putus dan membuat harga energi melonjak. Kebijakan China yang sementara ini me-lockdown beberapa kota terbesarnya karena kasus Covid-19 yang tinggi. Serta, kekurangan tenaga kerja telah membuat gaji melonjak dan menghambat pasokan barang di seluruh dunia.[]