Rahmah

Sahabat Hikmah, Begini Teladan Kebijaksanaan Nabi dalam Mengambil Keputusan

Meskipun sedang berkuasa, namun hal tersebut tidak membuat Rasulullah sembarang dalam memutuskan sesuatu.


Sahabat Hikmah, Begini Teladan Kebijaksanaan Nabi dalam Mengambil Keputusan
Pesan Rasulullah Kepada Pemimpin dan Pejabat (forkadi-islamic.com)

AKURAT.CO  Ketika Rasulullah SAW dan pasukan Muslim datang untuk menaklukkan kota suci Makkah, orang-orang musyrik dan kaum Quraisy merasa sangat ketakutan. Tidak ada satu orang pun yang berani keluar memperlihatkan batang hidungnya untuk melawan pasukan Muslim yang langsung dipimpin oleh Baginda Rasulullah SAW.

Hal ini membuat banyak orang musyrik dan kaum Quraisy merasa sangat terpukul. Diantara orang yang paling terpukul adalah Abu Sufyan, dia adalah pemimpin kaum kafir dan juga seorang bangsawan yang terhormat. Abu Sufyan biasanya selalu disanjung dan dipuji oleh rakyatnya. Namun saat peristiwa itu terjadi, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sekedar keluar rumah pun ia tidak berani.

Nabi Muhammad SAW merupakan orang yang sangat bijaksana, setelah kejadian itu, saat beliau hendak melangkahkan kaki ke Masjidil Haram untuk meruntuhkan berhala-berhala di Ka’bah, Baginda Rasulullah SAW berseru kepada penduduk Makkah “Barang siapa yang masuk kedalam Masjidil Haram dan rumah Abu Sufyan, maka akan dilindungi,”. 

Mendengar seruan Rasulullah SAW, Abu Sufyan merasa sangat bangga karena rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram. Sekarang, ia sudah tidak perlu lagi kehilangan rasa percaya diri dihadapan rakyat-rakyatnya. Karena ia merasa bahwa rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram, tempat yang dihormatinya. 

Atas kejadian itu, seketika juga putra Abu Sufyan, Mu’awiyah segera memeluk agama Islam. Namun Abu Sufyan dan Istrinya masih belum menerima Islam sebagai agamanya, mereka masih meminta waktu seminggu untuk berfikir dan berdialog dengan istrinya. Sedangkan semua penduduk Quraisy sudah berbondong-bondong masuk ke ajaran Rasulullah SAW.

Mendengar Abu Sufyan meminta waktu satu minggu untuk berfikir, Maka Rasulullah SAW menjawab. “Jangan seminggu!” “Apakah waktu seminggu itu terlalu lama?” tanya Abu Sufyan dengan terkejut. “Tidak waktu satu minggu itu terlalu cepat untukmu, jadi sekarang kuberi waktu dua bulan untuk berfikir secara leluasa, apakan kamu akan bersahadat atau tidak. Sebab agama Islam adalah agama orang-orang yang berfikir dan berakal. Tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak memiliki akal”. Jawab Rasulullah SAW secara jelas dan panjang lebar.

Demikian kisah kebijaksanaan Rasulullah SAW dalam menyikapi suatu persoalan, walaupun posisinya sudah di atas dan berkuasa, namun beliau selalu bersikap bijaksana dan adil dalam memutuskan setiap tindakan.[]