News

Sadis! Junta Militer Myanmar Bombardir Festival Musik Kachin, 80 Orang Tewas

Sadis! Junta Militer Myanmar Bombardir Festival Musik Kachin, 80 Orang Tewas
Jet tempur militer Myanmar terbang di atas festival musik Kachin yang diadakan untuk merayakan ulang tahun ke-62 Organisasi Kemerdekaan Kachin, sayap politik Tentara Kemerdekaan Kachin. (EPA-EFE)

AKURAT.CO Junta militer Myanmar melancarkan serangan udara terhadap sebuah festival musik di negara bagian Kachin. Akibatnya, sekitar 80 orang tewas dalam kejadian tersebut.

Dilaporkan kantor berita independen Myanmar Now pada Senin (24/10), 3 jet tempur membombardir festival pada Minggu (23/10). Akibatnya, 4 penampil tersohor Kachin, warga sipil, dan perwira Tentara Kemerdekaan Kachin tewas.

Festival ini diadakan untuk merayakan ulang tahun ke-62 Organisasi Kemerdekaan Kachin, sayap politik Tentara Kemerdekaan Kachin, kelompok etnis pemberontak yang menguasai daerah itu dan bentrok dengan militer Myanmar selama beberapa dekade.

baca juga:

Menurut Kachin News Group, sekitar 80 orang tewas dan 100 lainnya terluka oleh serangan udara di Kotapraja Hpakant. Dilaporkan juga bahwa pasukan keamanan pemerintah menghalangi para korban luka pergi dari daerah itu saat dilarikan ke rumah sakit.

Jumlah korban belum diverifikasi secara independen, tetapi pengeboman ini tampaknya menjadi serangan udara paling mematikan sejak militer merebut kekuasaan dalam kudeta Februari 2021. PBB pun mengaku sangat prihatin dan sedih dengan serangan itu.

"Penggunaan kekuatan yang berlebihan dan tak proporsional oleh pasukan keamanan terhadap warga sipil yang tak bersenjata tak dapat diterima. Mereka yang bertanggung jawab harus dituntut pertanggungjawabannya," kecamnya.

Pemerintah Persatuan Nasional Myanmar (NUG), pemerintah 'tandingan' yang terdiri dari anggota parlemen dan politisi yang digulingkan, menyebut serangan ini sebagai pelanggaran hukum internasional. Menurut mereka, militer telah melancarkan 240 serangan udara yang menargetkan warga sipil sejak kudeta, sehingga mengakibatkan lebih dari 200 kematian.

"Tindakan teroris militer jelas melanggar hukum internasional. Sebagaimana ketentuan Konvensi Jenewa, ditetapkan bahwa warga sipil harus dilindungi dari serangan setiap saat," bunyi pernyataan NUG.

Menurut kelompok HAM Amnesty International, bombardir pada Minggu (23/10) itu merupakan serangan udara terbaru oleh militer yang melanggar hukum. Lembaga ini pun mendesak para pemimpin ASEAN, untuk meningkatkan upaya guna menyelesaikan krisis ini dalam pertemuan pekan ini yang mengagendakan pembahasan Myanmar.