News

Sadar Tak Punya Banyak 'Teman', Presiden China Perintahkan Pencitraan yang 'Penuh Cinta'

Xi Jinping mengingatkan pentingnya menampilkan citra China yang kredibel, penuh cinta, dan terhormat


Sadar Tak Punya Banyak 'Teman', Presiden China Perintahkan Pencitraan yang 'Penuh Cinta'
Presiden China Xi Jinping. (Foto: Sydney Morning Herald) ()

AKURAT.CO, Presiden China mengaku ingin negaranya memperluas lingkar pertemanannya. Itu sebabnya, ia ingin memperbaiki citranya.

Dilansir dari BBC, Xi Jinping mengingatkan pejabat senior Partai Komunis tentang pentingnya menampilkan citra China yang kredibel, penuh cinta, dan terhormat, menurut laporan kantor berita pemerintah Xinhua. Ini menandai kemungkinan pergeseran diplomatik China yang menurut para analis semakin menjadi antagonis.

Komentar tersebut mencuat di tengah memburuknya hubungan dengan kekuatan global utama.

China telah dikritik atas pelanggaran HAM terhadap kelompok minoritas Muslim Uighur dan tindakan keras terhadap aktivis prodemokrasi Hong Kong. Baru-baru ini, negara itu mengecam upaya Amerika Serikat (AS) dalam penyelidikan lebih lanjut apakah COVID-19 berasal dari laboratorium China. Negeri Tirai Bambu menuduh AS melancarkan manipulasi politik dan pengalihan kesalahan.

Pada Senin (31/5), Xi mengatakan kepada otoritas bahwa penting bagi China untuk menceritakan kisahnya dengan cara yang positif.

"Perlunya berteman, bersatu, dan memenangkan mayoritas, serta terus memperluas lingkaran pertemanan terkait opini publik internasional," ungkapnya, seperti dikutip Xinhua.

Menurutnya, negara itu harus terbuka dan percaya diri, tetapi juga sederhana dan rendah hati dalam berkomunikasi dengan dunia. Xi juga mengatakan kalau organisasi propaganda partai harus memperjelas bahwa Beijing tidak menginginkan apa pun selain kebahagiaan dan nasib baik rakyat China.

"The China Daily diharapkan tetap setia pada tugasnya dalam menjembatani China dan dunia untuk komunikasi yang lebih besar," tulis surat kabar itu sendiri.

Sementara itu, menurut para analis, pernyataan Xi menyiratkan pengakuan langka tentang Beijing yang dikucilkan.

Xi menjadi presiden China pada 2012, mengantarkan era meningkatnya ketegasan dan otoritarianisme. Para diplomat pun semakin vokal dalam beberapa tahun terakhir. Mereka melontarkan sarkasme dan agresi terhadap negara yang menentang posisinya.

Strategi tersebut dijuluki diplomasi 'Wolf Warrior' (Prajurit Serigala), sebutan dari film patriotik di mana pasukan khusus elite China menghadapi tentara bayaran yang dipimpin AS.[]