News

RUU TPKS, Pimpinan MPR: Perjuangan Panjang dari 2012 Belum Selesai

MPR RI: RUU TPKS yang telah disahkan jadi inisiatif DPR RI, keberadaannya begitu penting.


RUU TPKS, Pimpinan MPR: Perjuangan Panjang dari 2012 Belum Selesai
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat (Rerie) (Dok. MPR RI)

AKURAT.CO Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) menyatakan, RUU TPKS yang telah disahkan jadi inisiatif DPR RI, keberadaannya begitu penting. Sebab, tidak hanya untuk memberikan efek jera bagi pelaku, tetapi juga untuk melindungi korban. 

"Kekerasan seksual kerap terjadi di ranah domestik dan payung hukum yang ada tidak bisa menjangkau karena memang ada aspek-aspek misalnya, pengaduan harus ada 2 saksi dan beberapa hal secara pidana tidak bisa dibuktikan," kata Rerie dikutip dari wawancara di Metro TV, Kamis (20/1/2022) pagi.

Dalam kesempatan tersebut, Rerie juga mengungkapkan dirinya bersyukur atas disahkannya RUU TPKS sebagai RUU inisiatif DPR pada rapat paripurna Selasa (18/1/2022) lalu.

baca juga:

"Suatu rasa syukur ya kemarin tanggal 18 Januari DPR sudah memasukkan RUU TPKS ini ke paripurna untuk dimulai pemabahasannya sebagai RUU inisiatif dari DPR," katanya. 

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perjuangan panjang RUU TPKS belum selesai sampai di situ, karena RUU tersebut masih harus dibahas bersama pemerintah sebelum disahkan menjadi undang-undang.

"Perjalanan yang sangat panjang dari 2012 dan seluruh elemen dari sini masyarakat ya bersama-sama ini belum selesai," kata Rerie. 

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem tersebut juga menegaskan permasalahan kekerasan seksual bukan hanya isu perempuan, melainkan permasalahan bersama yang perlu segera diselesaikan. 

"Masalah ini bukan hanya sekedar masalah perempuan tapi ini adalah masalah bangsa yang menjadi perhatian dan seluruh tenaga kita harus dicurahkan agar kita dapat segera menyelesaikan RUU ini jadi sebuah undang-undang," ujar Rerie. 

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, permasalahan yang dialami korban kekerasan seksual seringkali berlapis-lapis. Mulai dari perundungan, stigma, serta potensi untuk menjadi pelaku kekerasan seksual di masa mendatang.