Ekonomi

Rustam: Harusnya Produsen Minyak Goreng Ambil Untung Dari Ekspor!

Rustam dalam cuitannya: Harusnya untung ekspor sebagian dijadikan subsidi harga dlm negeri. Itu baru konglomerat tahu terima kasih Pak @jokowi.


Rustam: Harusnya Produsen Minyak Goreng Ambil Untung Dari Ekspor!
Rustam Ibrahim (TWITTER @RustamIbrahim)

AKURAT.CO, Hingga dua pekan lamanya setelah pelarangan ekspor CPO dan turunanya,  harga minyak goreng belum kunjung turun.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melarang ekspor CPO dan turunannya sejak 28 April 2022. Kebijakan ini akan berlaku hingga harga minyak goreng curah turun sesuai HET yang sebesar Rp14 ribu per liter atau Rp15.500 per kg. 

Akibat dari pelarangan ekspor tersebut, harga sawit pun naik. Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) naik pada Kamis (12/5/2022) sebesar  harga CPO di banderol di level MYR 6.507/ton atau naik tipis 0,48%.

baca juga:

Meski harga CPO masih drop 3,63% secara mingguan, tapi tetap naik 6,06% secara bulanan dan menguat 53,39% secara tahunan.

Namun demikian, akibat dari larangan ekspor CPO dan turunannya maka kenaikan harga CPO tidak banyak berdampak untuk industri sawit Indonesia.

Menanggapi hal terseut Pengamat Ekonomi dan Politik Rustam Ibrahim menilai ketika harga ekspor naik, produsen minyak goreng Indonesia dapat mengambil untung dari ekspor. Sebab menurut Rustam, sejatinya keuntungan ekspor itu bisa disubsidi dalam negeri.

"Klo pun harga sawit dunia naik, harusnya produsen minyak goreng (sebagian besar jg pemilik perkebunan), ambil untungnya dari ekspor, bkn dari anak negeri sendiri. Harusnya untung ekspor sebagian dijadikan subsidi harga dlm negeri. Itu baru konglomerat tahu terima kasih Pak @jokowi," kata Rustam  lewat akun twitternya, @RustamIbrahim yang dikutip Kamis (12/5/2022).

Seperti diketahui, Produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, Malaysia hari ini Jumat (6/5/2022) mengatakan bahwa pihaknya akan memanfaatkan kekurangan minyak nabati dunia untuk merebut pangsa pasar minyak sawit, setelah Eropa menghindari komoditas tersebut karena masalah lingkungan.

Adalyn, minyak kelapa sawit digunakan untuk membuat berbagai olahan dari lipstik hingga mie. Namun produsen utama yakni Indonesia tengah melarang ekspor sawit demi melancarkan pasokan dalam negeri.