News

Rusia Menang di Luhansk, Donetsk kini Jadi Incaran Berikutnya

Pasukan Rusia sedang mengarahkan pandangan ke target berikutnya, provinsi tetangga, Donetsk, di Ukraina timur


Rusia Menang di Luhansk, Donetsk kini Jadi Incaran Berikutnya
Asap mengepul di atas sisa-sisa bangunan yang hancur oleh serangan militer, saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut, di Lysychansk, wilayah Luhansk, Ukraina, 17 Juni 2022 (Reuters)

AKURAT.CO  Dengan perang yang berlangsung selama lima bulan, konflik Rusia-Ukraina kini mencapai fase baru. Penguasa Kremlin Presiden Vladimir Putin pun diketahui telah mengeklaim kemenangan atas provinsi Luhansk, dan kini pasukannya sedang mengarahkan pandangan ke target berikutnya, provinsi tetangga, Donetsk, di Ukraina timur

Menurut Reuters, penaklukan kota Lysychansk pada hari Minggu (3/7) telah menjadi penyelesaian penaklukan Rusia atas Luhansk. Luhansk sendiri adalah salah satu dari dua wilayah di Donbas, wilayah timur industri Ukraina yang menjadi pusat konflik. Perang Ukraina saat ini adalah pertempuran terbesar di Eropa dalam beberapa generasi.

Baik Rusia dan Ukraina, keduanya telah menderita banyak korban untuk merebut Luhansk, terutama selama pengepungan kota kembar Lysychansk dan Sievierodonetsk. Kedua kota tersebut telah ditinggalkan dalam reruntuhan karena pemboman Rusia yang tanpa henti.

baca juga:

Pada hari Selasa (5/7), pasukan Ukraina memutuskan untuk mengambil garis pertahanan baru di Donetsk, di mana mereka masih menguasai kota-kota besarnya.

Sementara Putin mengatakan kepada pasukannya untuk benar-benar beristirahat dan memulihkan kesiapan militer mereka, dan membiarkan unit di daerah lain terus berjuang.

Sejak awal konflik, Rusia telah menuntut Ukraina untuk menyerahkan Luhansk dan Donetsk kepada separatis pro-Moskow, yang telah mendeklarasikan negara bagian independen.

"Ini adalah kemenangan terakhir bagi Rusia di wilayah Ukraina."

"Ini adalah kota-kota berukuran sedang. Dan ini berlangsung dari 4 April hingga 4 Juli. Itu adalah 90 hari lamanya, dan begitu banyak kerugian terjadi...," ungkap Oleksiy Arestovych, penasihat Presiden Volodymyr Zelensky, mengatakan dalam sebuah video yang diposting online.

Arestovych kemudian melanjutkan bahwa selain pertempuran untuk Donetsk, Ukraina berharap untuk melancarkan serangan balasan di wilayah selatan negara itu.

"Mengambil kota-kota di timur berarti 60 persen pasukan Rusia sekarang terkonsentrasi di timur dan sulit bagi mereka untuk diarahkan ke selatan."

"Dan tidak ada lagi kekuatan yang bisa didatangkan dari Rusia. Mereka membayar mahal untuk Sievierodonetsk dan Lysychansk," katanya.

Harapan Ukraina untuk serangan balik yang berkelanjutan sebagian terletak pada penerimaan senjata tambahan dari Barat. Ini termasuk roket yang mampu menetralisir keunggulan daya tembak Rusia yang besar dengan menyerang jauh di belakang garis depan.

"Ini soal seberapa cepat pasokan datang."

"Di Barat, tidak ada cukup senjata untuk dipasok. Bagaimanapun, ini adalah konflik terbesar sejak 1945 ... jadi lebih banyak senjata harus diproduksi, dan produksi itu sedang berlangsung sekarang. Dan dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga dengan musim gugur akan ada satu set senjata yang sangat besar," kata Arestovych.

Beberapa ahli militer juga berpendapat bahwa kemenangan yang diperjuangkan dengan susah payah oleh Rusia hanya membawa sedikit keuntungan strategis bagi pasukannya. Selain itu, hasil dari apa yang dijuluki sebagai 'pertempuran Donbas' kini masih tetap dalam status seimbang.

"Saya pikir ini adalah kemenangan taktis bagi Rusia tetapi dengan biaya yang sangat besar," terang Neil Melvin dari think tank RUSI di London. Melvin telah membandingkan pertempuran itu dengan perang besar yang mendapat hanya sedikit keuntungan teritorial yang menjadi ciri Perang Dunia Pertama."

"Pertempuran itu berjalan hingga 60 hari, dan kemajuan yang dibuat sangat lambat. Saya pikir Rusia mungkin menyatakan semacam kemenangan, tetapi kunci pertempuran dari perang masih belum datang," katanya.

Melvin menjelaskan bahwa pertempuran yang menentukan untuk Ukraina kemungkinan bukan terjadi di timur, di mana Rusia meningkatkan serangan utamanya, tetapi di selatan, di mana Ukraina telah memulai serangan balasan untuk merebut kembali wilayah.

"Di sinilah kita melihat Ukraina membuat kemajuan di sekitar Kherson. Di sana, serangan balik telah dimulai, dan saya pikir kemungkinan besar kita akan melihat titik balik bagi Ukraina, ketika pasukannya mencoba untuk kemudian melakukan serangan balasan skala besar, demi mendorong Rusia kembali," imbuh Melvin.

Upaya melebihi kemampuan manusia

Rusia Menang di Luhansk, Donetsk kini Jadi Incaran Berikutnya - Foto 1
PERS PRESIDEN UKRAINIA

Zelensky pada Senin menegaskan bahwa meski pasukannya mundur dari Lysychansk, tentara Ukraina akan terus berjuang.

"Angkatan Bersenjata Ukraina merespons, mendorong kembali, dan menghancurkan potensi ofensif penjajah hari demi hari."

"Kita perlu menghancurkannya. Ini tugas yang sulit. Ini membutuhkan waktu dan upaya melebihi kemampuan manusia normal. Tapi kita tidak punya alternatif lain," katanya.

Pertempuran untuk Luhansk adalah yang paling dekat yang dicapai Moskow untuk mencapai salah satu tujuannya. Target itu pun dipasang Rusia sejak pasukannya kalah dalam upaya merebut Kyiv pada bulan Maret. Jatuhnya Luhansk telah menandai kemenangan terbesar Rusia sejak merebut pelabuhan selatan Mariupol pada akhir Mei.

Putin melancarkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari, menyebutnya sebagai 'operasi militer khusus' untuk mendemiliterisasi tetangga selatannya dan melindungi penutur bahasa Rusia dari apa yang disebutnya nasionalis 'fasis'. Namun, Ukraina dan Barat, mengatakan bahwa apa yang dilakukan Rusia hanyalah dalih tak berdasar untuk agresi mencolok demi merebut wilayah.

Serhiy Gaidai, Gubernur Luhansk Ukraina, mengakui seluruh provinsinya sekarang secara efektif berada di tangan Rusia. Kendati begitu, kepada Reuters, Gaidai mengaku masih optimis untuk menang perang secara keseluruhan.

"Kita perlu memenangkan perang, bukan pertempuran untuk Lysychansk ... Ini memang sangat menyakitkan, tetapi kita belum kalah dalam perang," ujarnya.

Gaidai juga mengonfirmasi bahwa sekarang, pasukan Ukraina yang mundur dari Lysychansk, berupaya mempertahankan garis antara Bakhmut dan Sloviansk. Para tentara ini, tambah Gaidai, sedang bersiap untuk menangkis kemajuan Rusia lebih lanjut.

Sementara itu, pengeboman di Sloviansk pada Minggu telah menyebabkan sedikitnya 6 orang tewas. Korban termasuk gadis berusia 10 tahun, kata wali kota Sloviansk. 

Kantor berita Rusia Tass mengutip pejabat militer di Republik Rakyat Donetsk, mengatakan tiga warga sipil tewas dan 27 terluka, dalam apa yang diklaimnya sebagai penembakan oleh pasukan Ukraina.[]