Ekonomi

Rusia Disebut Gagal Bayar Utang, Pasar Keuangan Dunia Tidak Tunjukan Reaksi

Hal ini disebabkan karena bunga obligasi yang belum terbayar sebesar USD 100 juta tersebut tidak terlalu mengejutkan bagi pasar global.


Rusia Disebut Gagal Bayar Utang, Pasar Keuangan Dunia Tidak Tunjukan Reaksi
Masyarakat Rusia menghabiskan waktu di ruang publik dengan menggunakan masker, Otoritas Kremlin dikabarkan berencana meluncurkan obat Covid-19 baru guna menciptakan hidup normal (Pexels/Anton Klyuchnikov)

AKURAT.CO, Rusia telah dinyatakan sebagai negara yang gagal membayar utang luar negerinya. Hal itu terjadi setelah negari beruang merah tersebut gagal bayar dua bunga obligas selama masa tenggang 30 hari terakhir pada hari Minggu kemarin (27/6/2022).

Akan tetapi, gagal bayar utang kali ini jauh berbeda dengan tahun 1998 silam. Pasa masa itu, Rusia gagal bayar obligasi berdominasi rubel. Pada saat itu memukul ekonomi Rusia dan memberikan dampak pada ekonomi global kala saat itu.

Inflasi Rusia pada tahun 1998 cukup tinggi yang menyebabkan kontraksi ekonomi yang memicu kegagalan bank. Pasar negara berkembang juga terpukul serta investor Amerika Serikat (AS) turut panik ketika mengetahui runtuhnya lindung nilai Long-Term Capital Management.

baca juga:

Mengutip dari CNN Business (29/6/2022), default Rusia pada kali ini cukup berbeda, karena pasar global hampir tidak menerima imbas yang signifikan, hal ini disebabkan karena bunga obligasi yang belum terbayar sebesar USD 100 juta tersebut tidak terlalu mengejutkan bagi pasar global.

Pada saat ini, pasar turut mengantisipasi secara luas ketika setengah cadangan devisa Rusia dibekukan dan Departemen Keuangan AS juga telah mengakhiri izin istimewa yang memungkinkan pemegang obligas AS harus dilunasi oleh Rusia.

Uni Eropa selain itu juga telah ikut mempersulit Rusia denhan memenuhi kewajiban utang di awal bulan setelah memberikan sanksi kepada Russia National Settlement Depository, yang merupakan sebuah agen negara untuk mengelola obligasi mata uang asingnya.

Menurut pandangan beberapa investor, Rusia sudah dipastikan gagal bayar utangnya. Lembaga pemeringkat S&P pun menyebut 'selective default' pada April kemarin, karena menawarkan pembayaran pada pemegang obligasi dalam rubel, bukan dengan dolar.

"Rusia mungkin mengalami default pada bulan Maret dan April," Timothy Ash, seorang pakar strategi pasar di BlueBay Asset Management.

Sebelumnya, Rusia menolak klaim jika disebut gagal bayar utang luar negeri, karena untuk pertama kalinya dalam kurun waktu seabad. Hal ini menjadikan Eusia memberitahu investor untuk pergi ke agen keuangan milik Barat.

Sumber: Reuters, CNN Business