Ekonomi

Rupiah Makin Terperosok, Fadli Zon: Harusnya Belajar dari Krisis 1997-1998

Rupiah Makin Terperosok, Fadli Zon: Harusnya Belajar dari Krisis 1997-1998
Wakil Ketua DPR Fadli Zon mendengarkan penjelasan dari terdakwa kasus dugaan pelanggaran UU ITE Buni Yani saat melakukan pertemuan di Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Kamis (2/11). Pertemuan tersebut guna menyampaikan perkembangan kasus dan rencana mengundang Fadli Zon hadir dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri Bandung pada 14 November mendatang (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot pada sesi perdagangan Rabu (28/9/2022) lalu dibuka melemah. Bahkan, pada pagi hari ini nilai tukar Mata Uang Garuda menembus Rp15.242 per dollar AS.

Melihat hal tersebut, Politikus dari Partai Gerindra, Fadli Zon menyatakan bahwa depresiasi rupiah harus dilihat serius.

"Ini biang penyakit, harusnya kita belajar dari krisis tahun 1997-1998, krisis moneter menjadi krisis ekonomi, krisis sosial, krisis politik dan krisis multidimensi. Lalu “regime change” pergantian kekuasaan. Tak ada kedaulatan mata uang akibat ekonomi liberal," tulisnya melalui twitter resmi miliknya.

baca juga:

Senada dengan Fadli, Rizal Ramli selaku Ekonom Senior menjelaskan bahwa Rupiah semakin melemah karena bank-bank sentral negara OECD melakukan program anti-inflasi agresif dengan menyedot akses likuiditas.

"Rupiah melemah karena Bank-Bank sentral negara OECD saat ini lagi melakukan program anti inflasi secara agresif melalui penyedotan akses likuiditas, oleh karena itu kelemahan struktural ekonomi Indonesia dan ketergantungan utang sangat besar. sehingga sangat rentan terhadap gejolak tingkat bunga," tulisnya.

Sebagai Informasi, sebelumnya nilai tukar rupiah berisiko melanjutkan pelemahan seiring dengan kejatuhan mata uang globa di hadapan dolar AS. Rupiah ditutup melemah ke level Rp15.266 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (28/9/2022).

Rupiah yang melemah 0,94 persen atau 142,5 poin terjadi seiring dengan pelemahan mata uang sejumlah negara di kawasan Asia dan penguatan dolar AS.

Menurut Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan bahwa pelemahan rupiah terutama dipicu oleh agresivitas kebijakan moneter di negara maju. Kebijakan kenaikan suku bunga yang agresif menyebabkan aliran modal keluar dari negara berkembang, sehingga menekan mata uang negara-negara tersebut, termasuk Indonesia.

Bhima mengatakan, pelemahan juga terjadi seiring dengan penguatan dolar AS, yang tercermin dari indeks dolar AS yang telah menembus level 113.

“Kemudian tingginya inflasi di negara berkembang memicu kekhawatiran terjadinya tekanan pada sektor keuangan,” ucapnya melalui lansiran Bisnis, Rabu (28/9/2022).[]