News

Rumah Sakit di New York Pecat Karyawan yang Tak Mau Divaksin Covid-19

Kewajiban vaksinasi Covid-19 itu akhirnya memicu kekurangan staf dengan beberapa rumah sakit terpaksa membatasi pelayanan.


Rumah Sakit di New York Pecat Karyawan yang Tak Mau Divaksin Covid-19
Dalam foto ini, seorang perawat mendapatkan suntikan vaksin Pfizer/BioNTech di MT.Sinai Hospital, New York City, New York, 15 Desember 2020 ( Reuters/Carlo Allergri)

AKURAT.CO Rumah-rumah sakit di negara bagian New York tengah bersiap untuk mulai memecat atau menskors ribuan petugas kesehatan yang tidak patuh terhadap perintah negara bagian untuk mendapatkan vaksin Covid-19.

Namun, seperti diwartakan ABC News, mandat Covid-19 itu akhirnya memicu kekurangan staf dengan beberapa rumah sakit terpaksa membatasi pelayanan atau menunda operasi elektif (yang bersifat pilihan).

Catholic Health, misalnya mengaku akan menunda beberapa operasi elektif mulai Senin (27/9) karena bekerja untuk menggenjot tingkat vaksinasi. Salah satu penyedia layanan kesehatan terbesar di Western New York itu menyebut tingkat vaksinasi telah mencapai 90 persen pekerja pada Minggu (26/9) sore waktu setempat.

Pusat Medis Erie County (ECMC) di Buffalo juga telah menangguhkan operasi rawat inap elektif. Kata seorang juru bicara, mereka tidak akan menerima pasien perawatan intensif dari rumah sakit lain karena bersiap untuk memecat ratusan karyawan yang tidak divaksin.

Juru bicara ECMC, Peter Cutler, mengatakan keputusan untuk membatasi beberapa operasi tidak hanya membuat pasien tidak nyaman, tetapi juga akan merugikan rumah sakit secara finansial. Mengingat, operasi rawat inap elektif per minggunya bisa menghasilkan pendapatan sekitar USD1 juta (Rp14,2 miliar). 

"Kita harus membuat keputusan tentang bagaimana kita bisa membuat sejumlah perubahan, tetapi sembari memastikan bahwa area layanan lain sesedikit mungkin terpengaruh. Secara finansial, ini masalah besar," kata Cutler seperti dikutip dari Reuters.

Sementara Wali Kota New York City, Bill de Blasio, mengatakan rumah sakit di kotanya belum melihat dampak besar dari mandat wajib vaksin dari negara bagian. Akan tetapi, De Blasio tetap memberi perhatian terhadap daerah-daerah lain di negara bagian yang masih memiliki tingkat vaksinasi yang lebih rendah.

Dorongan vaksinasi datang di tengah pertempuran yang lebih luas antara para pemimpin negara bagian dan pemerintah federal yang berusaha menggunakan mandat vaksin untuk melawan varian Delta. Upaya keras untuk mandat vaksin juga datang di tengah maraknya warga yang menolak disuntik dengan alasan agama. 

Bulan lalu, departemen kesehatan negara bagian New York mengeluarkan perintah yang isinya menyuruh semua petugas kesehatan untuk menerima setidaknya satu dosis vaksin paling lambat pada 27 September. Mandat inilah yang kemudian memicu rumah sakit untuk buru-buru membuat karyawan mereka disuntik.

"Dari 43 ribu karyawan di 11 rumah sakit umum New York City, sekitar 5 ribu belum divaksin," kata Mitchell Katz, kepala NYC Health + Hospitals, mengatakan pada konferensi pers. Pada Sabtu (25/9), Gubernur New York, Kathy Hochul, mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mempekerjakan Garda Nasional dan pekerja medis di luar negara bagian untuk mengisi kemungkinan kekurangan staf.

Hochul juga menekankan bahwa pekerja kesehatan yang dipecat karena menolak untuk divaksinasi tidak akan memenuhi syarat untuk asuransi pengangguran kecuali mereka dapat memberikan permintaan akomodasi medis yang disetujui oleh dokter.[]