Ekonomi

Rugikan Negara Rp6 Triliun, Fortuna Desak Hentikan Monopoli Ekspor Sarang Burung Walet

Rugikan Negara Rp6 Triliun, Fortuna Desak Hentikan Monopoli Ekspor Sarang Burung Walet
Forum Satu Nusantara (Fortuna) (DOK/Fortuna)

AKURAT.CO, Sarang burung walet telah bertumbuh kembang menjadi sumber penghasilan untuk petani, pelaku ekspor, dan pendapatan devisa bagi negara, serta membuka lapangan kerja. Sarang Burung Walet adalah warisan kebanggaan dari jaman kerajaan nusantara yang harus dipertahankan baik kualitas maupun kuantitas, khususnya oleh para pelaku ekspor, dan menjaga produk unggulan ini supaya Baik di mata internasional.

Forum Satu Nusantara (Fortuna) melihat ada hal yang menarik tapi tidak diketahui oleh publik saat ini terkait dengan informasi adanya dua perusahaan eksportir Sarang Burung Walet yang telah memiliki eksportir terdaftar ke negara China bermasalah.

Berdasarkan informasi Otoritas Kepabeanan China, yaitu General Administration of Customs China (GACC), perusahaan pertama melakukan ekspor melebihi dari kapasitas produksi yang ditetapkan, dan satu perusahaan lagi terkait dengan kandungan Nitrit yang melebihi ketentuan di atas 30 ppm.

baca juga:

“Terkait dengan perusahaan ekspor sarang burung wallet yang melebihi dari kapasitas produksi (over kuota) tentunya ini harus diselidiki dan diinvestigasi, ditindak tegas dan dicabut izin ekspornya karena perusahaan tersebut sudah melanggar dan melabrak regulasi bilateral perdagangan yang sudah disepakati Indonesia–China,” demikian diungkapkan Ketua Umum Fortuna, Thamrin Barubu di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Thamrin, karena sudah melakukan monopoli serta kartel ekspor Sarang Burung Walet ke China, Badan Karantina Pertanian (Barantan) harusnya bertindak tegas terhadap kedua perusahaan tersebut.

“Akan tetapi, apa yang dilakukan Barantan justru memberikan kesempatan kedua perusahaan tersebut untuk ekspor kembali ke China. Padahal, perusahaan tersebut sudah jelas melanggar kepatuhan diberikan kuota ekspor lima kali lipat sebelumnya oleh Barantan. Seharusnya perusahaan tersebut diberikan sanksi berat dan tindakan tegas, serta dicabut izin ekspornya oleh Barantan, tetapi ini hanya dievaluasi melalui pembinaan dan diaudit secara virtual,” ujar Thamrin.

“Hal ini juga menjadi sebuah tanda tanya besar bagi para pelaku ekspor Sarang Burung Walet. Mereka selama ini menjalankan regulasi Protokol Kepatuhan, sehingga kasus ini mengakibatkan tidak adanya keadilan, dan merugikan terhadap para pelaku ekspor. Selama ini mereka memiliki kuota terbatas tetapi menerapkan Regulasi Protokol Bilateral untuk ekspor saat System Tracebility (Ketertelusuran) diterapkan sungguh-sungguh oleh Barantan,” tambahnya.

Thamrin menjelaskan, nilai ekspor sarang burung walet mencapai Rp45 triliun per tahun. Namun demikian, adanya kelebihan kuota yang diberikan kepada dua perusahaan ekspotir ke China, negara mengalami kerugian sebesar Rp6 triliun. ”Kerugian ini terjadi hanya dalam setengah tahun,” ungkap dia.

Thamrin juga menegaskan bahwa, pihaknya meminta pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah tersebut agar petani sarang burung walet tidak dirugikan terus-menerus.

”Kami sudah melakukan pertemuan dengan berbagai pihak terkait ekspor sarang burung walet, namun belum ada tindakan,” jelasnya. 

Pada kesempatan yang sama Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN), Benny Hutapea mengatakan, kedua perusahaan tersebut sudah diinformasikan oleh Otoritas Kepabeanan China, yaitu General Administration of Customs China (GACC). 

”Pemasalahan tersebut menjadi citra buruk ke negara tujuan ekspor, apalagi dilakukan sejak didaftarkan pertama kali Ke China tahun 2017. Untuk itu, kami meminta ke dua perusahaan tersebut diselidiki dan ditindak tegas serta dicabut ijin  ekspornya karena melanggar regulasi bilateral perdagangan yang sudah disepakati Indonesia-China,” tegas Benny.

Benny Hutapea menilai langkah Barantan tidak adil dan merugikan eksportir yang selama ini memiliki kuota terbatas tetapi menerapkan regulasi protokol bilateral untuk ekspor.

Alhasil, agar tidak menimbulkan berbagai pertanyaan terkait adanya permainan antara Barantan dan pelaku ekspor yang bermasalah, Fortuna Menyatakan Sikap: Pertama, tindak tegas perusahaan kartel monopoli ekspor Sarang Burung Walet; Kedua, cabut segera izin ekspornya; Ketiga, terapkan sungguh-sungguh System Tracebility (Ketertelusuran); dan Keempat, selidiki dan investigasi oknum-oknum perusahaan tersebut. []