Ekonomi

Rubel Rusia Mulai Menguat Dikala Sanksi dan Embargo, Apa Rahasianya?

Diketahui, rubel pada hari ini menguat 4% terhadap dolar di 57,85, tidak jauh dari 57,0750, level terkuatnya sejak akhir Maret 2018, dicapai pada Jumat.


Rubel Rusia Mulai Menguat Dikala Sanksi dan Embargo, Apa Rahasianya?
Presiden Rusia Vladimir Putin Bersama Dengan Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina. (SPUTNIK)

AKURAT.CO, Rubel Rusia menguat sekitar 4% terhadap dolar dan euro pada hari ini (23/5/2022), mulai naik ke level tertinggi yang dicapai minggu lalu, yang mana kenaikan tersebut didukung oleh kontrol modal dan pajak akhir tahun yang akan datang.

Diketahui, rubel pada hari ini menguat 4% terhadap dolar di 57,85, tidak jauh dari 57,0750, level terkuatnya sejak akhir Maret 2018, dicapai pada hari Jumat. Bila diperdagangkan dengan euro sretelah naik 4,4% untuk diperdagangkan pada 60,05 versus euro, mendekati titik terkuat sejak Juni 2015 di 59,02, juga dicapai pada hari Jumat.

Rubel telah menguat sekitar 30% terhadap dolar pada tahun ini meskipun terjadi krisis ekonomi skala penuh di Rusia, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di dunia, meskipun secara artifisial didukung oleh kontrol yang diberlakukan pada akhir Februari untuk melindungi sektor keuangan Rusia.

baca juga:

Menurut analis Tinkoff Investments, Rusia juga mendorong perusahaan yang berfokus pada ekspor yang mewajibkan untuk mengkonversi pendapatan mata uang asing ke rubel, dan membekukan setengah dari cadangan emas dan valas Rusia. Sementara bank sentral dan pemerintah membiarkan pembatasan, sehingga rubel dapat terus menguat lebih lanjut dalam jangka menengah, 

"Mendekati musim gugur, nilai tukar mungkin mulai stabil mendekati level 60-65 karena impor pulih dan pembatasan berpotensi dicabut," ujar analis Tinkoff.

Tuntutan Rusia agar pembeli asing membayar gas dalam rubel juga berkontribusi pada reli rubel baru-baru ini, kata para analis pekan lalu. 

"Pasokan mata uang asing dari eksportir, harga minyak yang tinggi dan periode pajak akhir bulan mendatang yang biasanya mendorong perusahaan yang berfokus pada ekspor untuk mengubah pendapatan valas mereka menjadi rubel untuk memenuhi kewajiban lokal semuanya mendukung mata uang Rusia," jelas BCS Express yang mana merupakan sebuah perusahaan kontainer Rusia, dalam sebuah catatan yang diterima Reuters.[0