Rahmah

Rubayyi Binti Mu'awwidz, Mujahidah Pemberani dan Perawi Hadits Terkemuka

Ketika di medan perang, Rubayyi binti Mu'awwidz ditugaskan untuk membantu dan mengobati Mujahid yang mengalami luka-luka.


Rubayyi Binti Mu'awwidz, Mujahidah Pemberani dan Perawi Hadits Terkemuka
Ilustrasi Perempuan (Umma)

AKURAT.CO  Salah seorang sahabat dari kalangan Anshar yang telah memeluk Islam sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah adalah Rubayyi binti Mu'awwidz. Pada saat itu, agama Islam didakwakan oleh utusan Rasulullah SAW, Mush'ab bin Umair.

Diketahui, Rubayyi binti Mu'awwidz termasuk dari sabiyah yang cukup aktif mengikuti peperangan. Ketika di medan perang, Rubayyi binti Mu'awwidz ditugaskan untuk membantu dan mengobati Mujahid yang mengalami luka-luka.

Ayahnya yang bernama Mu'awidz bin Afra juga ikut memiliki andil atas terbunuhnya Abu Jahal di perang Badar. Namun akhirnya beliau menjadi syahid di perang tersebut. 

Pada suatu waktu, rumah Rubayyi kedatangan beberapa orang wanita. Seperti pertemuan pada umumnya, mereka saling menceritakan nasab dan keadaan hidup yang sedang mereka jalani.

Disaat mereka mengetahui bahwa Rubayyi adalah putri dari Mu'awwidz bin Afra, yakni pahlawan Badar yang menewaskan Abu Jahal, seorang wanita bernama Asma binti Abu Bakar berkata, "Oh, jadi engkau itu putri dari seseorang yang membunuh pemimpinnya..!"

Perkataan Asma binti Abu Bakar tersebut, mungkin saja adalah suatu kekaguman. Karena sudah diketahui bersama bahwa Abu Jahal adalah pemimpin Quraisy yang sangat ditakuti, sedangkan ayah Rubayyi mampu membunuhnya. 

Kendati demikian, menurut Rubayyi, tidak patut untuk menganggap Abu Jahal sebagai seorang pemimpin karena telah memusuhi dan menyakiti pemeluk-pemeluk Islam. Sehingga ia berkata, "Saya bukanlah anak pembunuh pemimpinnya, melainkan saya adalah anak dari seorang yang membunuh hamba sahaya."

Mendengar penjelasan dari Rubayyi, ternyata membuat Asma tidak terima yang menyebut Abu Jahal merupakan seorang hamba. Sebagai orang Quraisy, Asma tetap menghargai kebangsawanan dan tidak menyamakan Abu Jahal dengan seorang hamba. Karena merasa tersinggung, ia berkata, "Aku haramkan menjual minyak wangi kepadamu…!"

Tetapi Asma menjawabnya dengan perkataan sebagai berikut, "Sayapun haram membeli minyak wangi darimu," 

Perlu diketahui bahwa kebanggaan akan sesuatu tidaklah baik. Bahkan sekalipun ‘membanggakan’ keislaman dan keimanan. Karena bukan kebanggaan yang harus diperhatikan, melainkan rasa syukur dengan jalan untuk terus meningkatkan amalan-amalan yang shalihah. Wallahu A'lam. []