News

Program Kampus Mengajar Berhasil Merubah Cara Pandang Peserta Tentang Pendidikan di Daerah Tertinggal

Sebanyak 14.621 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan dibimbing oleh 2.077 dosen telah bergabung di dalam Program Kampus Mengajar Angkatan I


Program Kampus Mengajar Berhasil Merubah Cara Pandang Peserta Tentang Pendidikan di Daerah Tertinggal
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam dalam Program Kampus Mengajar.

AKURAT.CO, Program Kampus Mengajar Angkatan I Tahun 2021 yang telah diluncurkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikburistek), Nadiem Anwar Makarim pada Februari 2021 hampir selesai.

Sebanyak 14.621 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan dibimbing oleh 2.077 dosen telah bergabung di dalam Program Kampus Mengajar Angkatan I untuk mendampingi guru dan kepala sekolah di 4.810 SD di 458 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam menuturkan pengalaman para mahasiswa dan manfaat dari mengikuti program Kampus Merdeka sungguh luar biasa.

“Berbagai inovasi dilakukan oleh adik-adik mahasiswa dan berbagai pengalaman yang tak ternilai harganya telah dialami oleh peserta Program Kampus Mengajar,” kata Nizam pada pengumuman penyelenggaraan Festival Kampus Mengajar secara daring yang dikutip AKURAT.CO pada Minggu (13/6/2021).

“Tentu pengalaman mereka luar biasa sekali dan manfaat yang dirasakan oleh para guru dan adik-adik siswa yang dibimbing oleh para mahasiswanya diinspirasi oleh kakak-kakaknya juga sungguh luar biasa,” lanjutnya.

Salah satu mahasiswa penerima program Kampus Mengajar yang merasakan manfaat dari program ini adalah Havid Adhiatama yang mendapat tugas mengajar di SD Negeri 4 Kalisat Kidul, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah.

Menurutnya, Program Kampus Mengajar telah melakukan transformasi dalam pengajaran terkait tiga hal, yaitu: literasi, numerasi dan alih teknologi.

“Alih teknologi disini cukup sulit, sejak awal penerjunan kami menemui kendala sebab sinyal GSM untuk internet ataupun SMS tidak ada sama sekali di sini,” tutur Havid. 

Menurut dia, andalan untuk berkoordinasi dengan tim adalah radio komunikasi.

"Selain itu, kami berkerja sama dengan LAPAN dan AMSAT-ID melalui Organisasi Amatir Radio untuk melaksanakan uji coba berkirim media pembelajaran melalui Satelit LAPAN A2 / Satelit IO-86,” tutur Havid. 

“Uji coba tersebut berhasil, bisa digunakan ketika benar-benar dalam keadaan darurat,” kata dia. 

Senada dengan itu, Athi Nur Auliati Rahman, seorang mahasiswi asal Universitas Negeri Yogyakarta yang ditempatkan di SDN Gulugulu 2 Kab. Sumenep, Jawa Timur juga menyimpan pengalaman-pengalaman berkesan selama mengikuti Program Kampus Mengajar.

“Pertama saya merasa ada perubahan cara pandang dan bersikap terutama dalam menanggapi jarak antara pendidikan di perguruan tinggi dengan lapangan khususnya di desa tertinggal,” kata Athi. 

Menurutnya, melalui Kampus Mengajar, ia berkesempatan untuk hadir berusaha memberi solusi atas persoalan pendidikan di daerah.

“Mulai dari distribusi ilmu pengetahuan, pengajar, media pembelajaran, fasilitas atau alat pembelajaran, sinyal internet, motivasi belajar siswa, peran orang tua, dan banyak lagi,” terang dia. []