Lifestyle

Mengapa Perlu Ruang Khusus Wanita Di Sarana Publik?

Mengapa Perlu Ruang Khusus Wanita Di Sarana Publik?
Ruang Khusus Wanita di Transjakarta (Istimewa)

AKURAT.CO, Ruang khusus wanita adalah area khusus yang hanya boleh ditempati oleh wanita saja sehingga para wanita bisa bebas melakukan sesuatu tanpa rasa khawatir. Ruangan ini diciptakan untuk melindungi wanita dari segala bentuk kejahatan yang fokusnya terhadap gender atau jenis kelamin.

Ruang khusus wanita bisa ditemukan di dalam transportasi umum seperti gerbong kereta yang hanya boleh diisi oleh wanita, area di paling depan bus Transjakarta, pemisahan toilet di dalam kereta jarak jauh, dan dibuatnya ladies parking.

Terkhusus di Transjakarta yang menyediakan ruang khusus wanita, tentu ini ada alasannya. Kebijakan ini dibuat agar wanita merasa nyaman dalam menggunakan transportasi umum saat data kekerasan seksual masih tinggi.

baca juga:

Penerapan penyediaan area khusus wanita di Transjakarta pertama kali diterapkan pada 12 Desember 2011.

Di dalam bus, area khusus wanita ditempatkan di bagian depan bis, tepatnya dari kursi di dekat pintu bagian tengah hingga kursi di belakang kursi.

“Sebenarnya yang kami batasi ruang laki-laki. Penumpang perempuan boleh di mana saja. Bagian belakang masih boleh untuk perempuan," ujar Akbar yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Badan Layanan Umum Transjakarta.

Akbar juga menambahkan bahwa kebijakan ini dibuat berdasarkan dua hal. Pertama, dari hasil survei Badan Layanan Umum (BLU) tahun 2008 yang menghasilkan 90 persen penumpang wanita setuju untuk disediakan area khusus.

Selain itu, BLU juga ingin menekan tingkat pelecehan seksual di Transjakarta, terutama pada saat kondisi penuh. Sebelum kebijakan ini diterapkan pada 2011, kasus pelecehan seksual memang sedang meningkat pada tahun yang sama. 

Kontroversi Ruang Khusus Wanita

Setiap kebijakan pasti menimbulkan pro dan kontra, tak terlepas dari ruang khusus wanita. Kebijakan ini sering dianggap sebagai pengaplikasian dari alpha woman atau wanita yang ingin mendominasi. Selain itu, banyak yang berpendapat bahwa wanita hanya mau dispesialkan.

Ada juga pendapat yang menyinggung kesetaraan gender atau feminisme yang diperjuangkan R.A Kartini. Perjuangan emansipasi wanita dirasa sia-sia ketika ruang khusus wanita ini diciptakan. Ruang ramah wanita ini masih banyak menerima perdebatan di tengah perjalanannya.

Ruang Khusus Wanita, Perlukah?

Ruang khusus wanita dirasa masih perlu dan efisien. Tingginya angka kekerasan gender termasuk pelecehan pada wanita masih menjadi hal yang harus diperhatikan. Komnas Perempuan mencatat pada Januari s.d November 2022 telah menerima 3.014 kasus kekerasan berbasis gender terhadap wanita, termasuk 860 kasus kekerasan seksual di ranah publik/komunitas dan 899 kasus di ranah personal.

Pelecehan bisa terjadi dan dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang gender. Tetapi kekerasan gender terhadap wanita jauh lebih tinggi dibanding laki-laki. Berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak selama 2022  terdapat 17.150 kasus kekerasan dengan jumlah korban wanita sebanyak 15.759 orang dan korban laki-laki sebanyak 2.729 orang.

Selain menghindari adanya kekerasan gender terhadap wanita, ruang khusus ini diperlukan untuk hal lainnya. Contohnya adalah ketika ada penumpang wanita yang membawa bayi dan ingin memberikan asi. 

Pentingnya ruang ramah perempuan ini juga dapat terlihat ketika pakaian wanita tersibak, ia tetap akan merasa nyaman jika ada di dalam ruangan yang berisikan sesama gendernya saja. Jadi, tidak perlu merasa khawatir akan adanya campur tangan lawan jenis yang sifatnya privasi atau bisa menimbulkan kekerasan gender.