News

RSUP Dr. Sardjito Teliti Terapi Sel Punca untuk Sembuhkan Pasien COVID-19

RSUP Dr. Sardjito Teliti Terapi Sel Punca untuk Sembuhkan Pasien COVID-19


RSUP Dr. Sardjito Teliti Terapi Sel Punca untuk Sembuhkan Pasien COVID-19
Jumpa pers kick off pelayanan penelitian terapi COVID-19 dengan cell di RSUP Dr. Sardjito, Sleman, Jumat (16/4/2021) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, RSUP Dr. Sardjito menggandeng Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK UGM) untuk menjajaki pelayanan berbasis penelitian tentang penggunaan stem cell untuk terapi pada pasien COVID-19 derajat berat. Sel punca disuntikkan demi mencegah pasien beranjak ke fase kritis.

Selain RSUP Dr. Sardjito, tiga rumah sakit yang terlibat dalam penelitian ini antara lain RSUD Dr. Moewardi, RSUP Dr. Hasan Sadikin, dan RSPAD Gatot Subroto. 

Penelitian ini telah memperoleh izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Serta terdaftar dalam standar terapi COVID-19 Kementerian Kesehatan per Februari 2021.

Sekretaris Tim Pokja stem cell RSUP Dr. Sardjito, Rusdi Ghazali Malueka menjelaskan, stem cell atau sel punca dapat diartikan sebagai sel induk yang berkembang menjadi sel spesifik.

"Artinya, sesuai dengan namanya sel punca dia itu sel induk. Jadi dia adalah sel induk. Jadi dia adalah sel tubuh yang belum berkembang menjadi sel spesifik, misalnya sel saraf, sel paru, sel otot, sel jantung," kata Rusdi di RSUP Dr. Sardjito, Sleman, Jumat (16/4/2021).

Dikatakan Rusdi, sel punca berfungsi mereparasi jaringan atau organ rusak karena badai sitokin akibat infeksi virus COVID-19. Stem cell diberikan melalui injeksi ke tubuh pasien.

"Normalnya setiap orang pasti punya stem sel. Setiap individu normal dia punya namanya stem sel jumlahnya terbatas. Itu yang berperan dalam pemulihan tubuh kita pada berbagai kondisi," paparnya.

"Nah yang kita lakukan pada terapi stem cell pada COVID-19 ini adalah kita memberikan stem sel dari luar. Sehingga stem sel harapan kita bekerja memperbaiki fungsi-fungsi tadi, organ-organ yang rusak dalam ini adalah paru. Kemudian ternyata stem sel juga punya efek anti inflamasi. Jadi efek untuk memperbaiki peradangan yang ditimbulkan karena Covid-19," sambungnya.

 AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

Rusdi melanjutkan, stem cell diberikan lewat jalur infus intravena (IV) dengan dosis 1 juta sel/kg berat badan. Diberikan sebanyak 3 kali dengan rentang 3 hari antar pemberian.

Setelahnya, pasien menjalani diperiksa secara berkala untuk melihat efektivitas dan keamanan. Kemudian berlanjut untuk menilai ada tidaknya efek samping jangka panjang.

Injeksi stem cell pertama pada pasien COVID-19 di RSUP Dr. Sardjito dilaksanakan pada tanggal 29 Januari tahun 2021. Dengan pasien seorang laki-laki berumur 63 tahun. Kondisinya saat itu sudah sampai dipasangi ventilator. 

Pasien itu menunjukkan perbaikan yang menggembirakan pasca injeksi stem cell. Hasil pemeriksaan rontgen dada sepekan setelah injeksi menampilkan perbaikan signifikan pada kondisi paru pasien. Hasil ini yang lalu menjadi dasar pengembangan penelitian stem cell pada COVID-19 dalam bentuk uji klinik.

Saat ini ada 9 pasien yang direkrut untuk penelitian yang menggunakan metode uji klinik Acak Buta Ganda Terkontrol (Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial). Dari para pasien itu, sebagain disuntik stem cell dan lainnya sham procedure atau mendapat kontrol. Hasilnya masih dalam tahap evaluasi.

"Sembilan pasien tadi kondisinya beragam. Ada yang bagus ada juga yang hasilnya tidak begitu bagus. Karena kita juga tidak tahu pasien yang bagus itu dapat stem sel atau tidak. Kita masih di close. Ya harapannya pasien yang sembuh itu pasien stem sel. Tapi kita tidak tahu," bebernya.

"Jadi kategori kita pasien sembuh itu sampai total nanti, setelah sekian bulan ada tidak efek samping dan kondisi lainnya. Penelitian juga baru sebulanan lebih jadi kita belum bisa bilang. Nanti kita update lagi September," tutupnya.

Ketua Tim Pokja Stem Cell RSUP Dr. Sardjito Samekto Wibowo menambahkan, terapi stem cell ini sudah dipakai menangani berbagai penyakit. Antara lain pada kasus osteoartritis dan cedera medula spinalis. Saat ini tengah diusulkan untuk parkinson, stroke, dan jantung.

Pelayanan berbasis penelitian ini tak terlepas dari kendala berupa persetujuan pasien beserta keluarga. Lalu mencari pasien dengan gejala berat.

"Penelitian ini merupakan hal baru. Jadi banyak yang belum tahu dan itu bisa dimengerti," tuturnya.

Penelitian ini dilakukan RSUP Dr. Sardjito sebagai rumah sakit rujukan dalam penanganan COVID-19. Misinya, agar stem cell dapat diterapkan secara rutin pada pasien Corona. Harapannya, tercapai pada September 2021.

"Mudah-mudahan semua lancar dan target terpenuhi," tutupnya. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu