Lifestyle

Ronaldo Singkirkan Coca-Cola di Euro, Ini Dampak Buruk Minuman Bersoda buat Tubuh

Cristiano menyingkirkan Coca-Cola dari hadapannya di Euro 2020


Ronaldo Singkirkan Coca-Cola di Euro, Ini Dampak Buruk Minuman Bersoda buat Tubuh
Ilustrasi minuman bersoda (THESUN.CO.UK)

AKURAT.CO, Cristiano Ronaldo menadadak membuat jagat maya heboh karena terang-terangan menyingkirkan dua botol Coca-Cola dari hadapan kamera di depan awak media pada saat konferensi pers Euro 2020/2021. Setelah itu, Ronaldo menawarkan air mineral kepada awak media. 

"Minumlah air, bukan Coke (Coca-Cola)," ujar Ronaldo sembari mengangkat botol air mineral.

Akibat aksinya itu, saham Coca-Cola menjadi anjlok sehingga membuat perusahaan itu merugi hingga 4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp57,043 Triliun. Terkait hal ini, pihak Coca-Cola mengatakan jika sebelum konferensi pers setiap pemain telah ditawari air mineral. Namun, sebagai salah satu sponsor Euro 2020, Coca-Cola tetap mendapat tempat saat konferensi pers. 

"Pemain ditawari air, bersama Coca-Cola dan Coca-Cola Zero Sugar, pada saat datang di ruang konferensi pers kami," kata juru bicara Coca-Cola, dilansir dari Daily Mail. 

Ronaldo memang diketahui sebagi atlet yang menerapkan gaya hidup sehat dengan sangat ketat. Dia bahkan menentang jenis minuman berkarbonasi atau bersoda. 

Minuman bersoda memang tampak begitu menyegarkan, apalagi bila dinikmati dalam kondisi dingin. Sayangnya, minuman bersoda tidak bisa menggantikan fungsi air putih untuk tubuh. Selain tak bisa menghilangkan dahaga, minuman bersoda juga mengandung gula dan zat-zat buatan lainnya yang berbahaya bagi tubuh bila dikonsumsi berlebihan.

Berikut AKURAT.CO uraikan beberapa penyakit yang mengintai tubuhmu bila terlalu banyak minum soda:

Obesitas

Studi menunjukkan, orang yang minum soda sebagai 'teman' makan mereka, mengonsumsi 17 persen lebih banyak kalori, ketimbang mereka yang hanya minum air. Pasalnya, kalori yang terdapat dalam sekaleng soda (350 ml) disebut setara dengan 1 porsi nasi putih ukuran kecil (150 gram), yakni 140 kalori. 

Artinya, saat kamu makan nasi atau makan berat dengan konsumsi soda, maka jumlah kalori yang masuk ke tubuhmu kan menjadi dua kali lipat.  Tak hanya itu saja, tingginya kadar gula dalam minuman bersoda juga akan meningkatkan nafsu makanmu. 

Diabetes dan penyakit jantung

Kamu pasti menyadari jika minuman bersoda mengandung banyak gula dan pemanis buatan lainnya. Mengutip laman Medical News Today, sekaleng minuman bersoda (12 ons), setidaknya mengandung  29,4- 42 gram gula atau setara dengan 7-10 sendok teh. Jumlah ini, jika dikonsumsi dalam jumlah besar dapat menyebabkan masalah kesehatan serius. Salah satunya adalah diabetes tipe 2. Ya, minum satu kaleng minuman bersoda bisa meningkatkan risiko diabetes tipe 2 sebanyak 1,1 persen.

Saat tubuh kelebihan kadar gula (glukosa), pankreas pun akan menghasilkan insulin untuk menghilangkan glukosa dari aliran darah. Apabila terjadi terus menerus, maka kadar insulin dalam darah meningkat . Itu sebabnya, konsumsi makanan tinggi gula bisa meningkatkan resistensi insulin.

Resistansi insulin merupakan penyebab utama di balik sindrom metabolik atau batu loncatan menuju diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Kerusakan gigi

Kadar gula yang tinggi pada minuman bersoda bisa menyebabkan gigi menjadi rusak. Pasalnya, bakteri di mulut akan memecahkan gula, gula-gula itu akan menghasilkan asam yang bisa melarutkan lapisan permukaan gigi. Selain itu, soda juga mengandung asam fosfat dan asam karbonat yang bisa  meningkatkan asam di dalam mulut yang membuat gigi rentan membusuk. Kombinasi gula dan soda ini dapat membuat kerusakan pada gigi tidak dapat dihindarkan.

Meningkatkan risiko kanker

Studi yang dipublikasikan dalam British Medical Journal itu menejelaskan bahwa minuman manis, seperti minuman bersoda,  bisa tingkatkan risiko terkena kanker. Menurut studi tersebut, minum sekitar 3,4 ons minuman manis setiap hari dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara sebesar 22 persen dan kanker secara keseluruhan 18 persen.

Perempuan pascamenopause yang banyak minum soda juga berisiko lebih tinggi terkena kanker lapisan dalam rahim. Penulis utama studi Susanna Larsson dari Institut Karolinska di Swedia juga menyebutkan konsumsi dua atau lebih minuman manis dan soda dalam sehari, memiliki risiko dua kali lebih dalam mengembangkan tumor kantong empedu, dan 79 persen lebih tinggi terkena kanker saluran empedu.

Kecanduan

Sebuah penelitian menemukan bahwa minuman berpemanis, minuman bersoda, serta minuman junk food lainnya dapat mempengaruhi rasa candu pada otak layaknya obat keras Studi lain juga menyebutkan jika kadar gula tinggi pada minuman bersoda membuat tubuh melepaskan serotonin atau hormon yang bertanggung jawab atas perasaan tenang dan bahagia. Akibat efeknya ini, orang-orang akan terus mengonsumsinya. Inilah yang membuat minuman bersoda disebut memiliki efek candu. 

Demensia dan stroke

Sebuah studi menunjukkan jika minum satu minuman soda diet perhari memiliki risiko terkena stroke atau demensia tiga kali lipat lebih besar. Penuaan, merokok, kualitas pola makan, dan beberapa faktor memeang juga berpengaruh untuk menimbulkan kondisi tersebut bila tak dikontrol.

"Studi ini bukan berarti hasil akhir, namun data ini memberikan saran dengan bukti kuat untuk mengurangi konsumsi minuman manis atau pengganti pemanis," tukas Sudha Seshadri, profesor neurologi di Boston University School of Medicine (MED) dalam sebuah pernyataan.