News

Rodrigo Duterte Perintahkan Tangkap Warga yang Hanya Sampirkan Masker di Dagu

Warga Filipina yang tak memakai masker dengan benar terancam ditahan 12 jam tanpa dakwaan.


Rodrigo Duterte Perintahkan Tangkap Warga yang Hanya Sampirkan Masker di Dagu
Presiden Filipina Rodrigo Duterte memegang vaksin AstraZeneca dalam sebuah upacara di pangkalan udara militer di Manila. (Foto: AFP)

AKURAT.CO, Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah memerintahkan polisi untuk menangkap siapa pun yang tak mengenakan masker dengan benar, termasuk di bawah hidung.

Dilansir dari AFP, arahan itu dirilis Duterte setelah rapat dengan satuan tugas COVID-19. Padahal, berdasarkan video resmi yang dirilis pada Rabu (5/5), hanya Duterte yang tidak memakai masker dalam rapat tersebut.

Ribuan warga telah dihukum karena melanggar aturan COVID-19 sejak akhir Maret, ketika pembatasan diperketat di ibu kota dan provinsi sekitar setelah terjadinya lonjakan kasus. Menteri kehakiman dan kepala polisi pun telah mendesak petugas untuk mendenda pelanggar atau membuat mereka melakukan pelayanan masyarakat, menyusul kematian sorang pria yang dihukum melakukan 100 squat jump karena melanggar jam malam.

Namun, Duterte mengatakan polisi harus bersikap tegas terhadap pelanggar aturan dan menangkap mereka yang tak memakai masker dengan benar, termasuk mereka yang membiarkan hidungnya terbuka.

"Saya memerintahkan polisi untuk menangkap dan menahan mereka yang tak memakai masker dengan benar, serta menyelidiki mengapa mereka melakukannya. Ini bukan untuk saya, ini bukan untuk kita. Ini untuk kepentingan negara, sehingga Anda tidak akan menularkan dan Anda tidak akan tertular," ungkapnya.

Juru bicara Duterte, Harry Roque, membenarkan perintah penangkapan ini pada Kamis (6/5). Ia menjelaskan kalau pelanggar dapat ditahan hingga 12 jam tanpa dakwaan. Sontak kelompok HAM Karapatan mengecam arahan terbaru ini. Menurut mereka, perintah ini sangat tidak ilmiah dan tidak efektif dengan penggunaan kekerasan yang tidak proporsional.

"Kapasitas berlebih dan kondisi yang tak manusiawi di fasilitas penahanan negara berisiko bagi kesehatan narapidana. Selain itu, menahan ratusan tersangka pelanggar di fasilitas sempit ini yang mustahil menerapkan jarak fisik akan memfasilitasi cepatnya penyebaran penyakit menular seperti COVID-19," bunyi pernyataan Karapatan.

Duterte pun tahun lalu mengatakan kepada pasukan keamanannya agar menembak mati siapa pun yang menyebabkan 'masalah' di daerah-daerah lockdown. Sontak hal ini menuai kecaman dari kelompok HAM.

Polisi dan tentara telah berperan penting dalam respons pandemi di Filipina. Mereka mendirikan pos pemeriksaan dan mengerahkan ribuan personel untuk menegakkan perintah tinggal di rumah.

Sementara itu, jumlah kasus lebih dari 1 juta infeksi di negara ini menjadi yang tertinggi kedua di Asia Tenggara.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co