News

Ridwan Kamil: Survei Elektabilitas Cuma Menghitung Mood Warga Hari Ini

Pernyataannya itu salah satunya didasarkan pada pengalamannya


Ridwan Kamil: Survei Elektabilitas Cuma Menghitung Mood Warga Hari Ini
Ridwan Kamil dalam acara Fisipol Leadership Forum: Road to 2024 diselenggarakan UGM, Sleman, Kamis (2/12/2021) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berpandangan survei elektabilitas bukan cerminan hasil akhir pada tiap politik elektoral lima tahunan.

"Survei itu tidak mencerminkan hasil akhir, itu hanya persepsi hari ini," kata pria yang akrab disapa Kang Emil ini dalam acara Fisipol Leadership Forum: Road to 2024 diselenggarakan UGM, Sleman, Kamis (2/12/2021).

Pernyataannya itu salah satunya didasarkan pada pengalamannya mengikuti Pemilihan Wali Kota (Pilwakot) Bandung 2013 silam. Dia menyebut tingkat elektabilitasnya cuma 6 persen saja sebelum kontestasi dimulai.

Rendahnya tingkat elektabilitas hasil survei itu membuat banyak pihak meragukan Emil untuk bisa melangkah ke Pilwakot Bandung.

"Kalau mempercayai survei di momen itu pasti saya nggak akan ikutan. Akhirnya saya menang 45 persen di hari pencoblosan melawan 7 pasangan lainnya," imbuhnya.

Cukup jelas baginya bahwa hasil survei tak identik dengan hasil akhir yang menurutnya belum membaca seluruh kerja-kerja politik dari masing-masing pasangan calon dan timnya.

Dirinya pun mencontohkan survei lain yang menyasar salah satu kompetitornya di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar 2018 lalu. Tanpa merujuk sosoknya, pesaingnya itu mampu meraup 29 persen suara saat survei 3 hari sebelumnya tingkat elektabilitasnya cuma 12 persen saja.

"Survei itu hanya menghitung mood, mood warga hari ini," tegasnya.

Terlebih, bagi Emil, survei jauh lebih relevan ketika dilakukan kepada pasangan calon. Artinya, tak lagi menghitung tingkat elektabilitas sebagai individu semata.

"Kalau sekarang kan dibanding-banding, 1, 2, 3. Padahal nanti yang rangking 1 survei hari ini gabung berpasangan dengan nomor 5, rangking 2 pasangan nomor 3, baru itu relevan surveinya. Karena sudah bentuknya sebagai pasangan. Jadi Belanda masih jauh, kira-kira begitu. Tapi biar dilakukan," pungkasnya. []