Olahraga

Richard: Adik-Adik Berterima Kasih karena Saya Bawa Klan Mainaky ke Jakarta

Richard Mainaky berjasa menaikkan gengsi sektor ganda campuran di Indonesia yang semula dianggap tidak terlalu menarik.


Richard: Adik-Adik Berterima Kasih karena Saya Bawa Klan Mainaky ke Jakarta
Pelatih sektor ganda campuran Pelatnas PBSI, Richard Mainaky, ketika berbicara di hadapan atletnya di Cipayung, Jakarta, Senin(13/9). (PBSI)

AKURAT.CO, Setelah 26 tahun, Richard Mainaky akhirnya memutuskan berhenti sebagai pelatih sektor ganda campuran di Pelatnas PBSI. Dalam perjalanan sejak 1995, Richard juga adalah orang yang membawa saudara-saudaranya yang kelak mendominasi bulutangkis Indonesia ke pentas nasional dengan nama belakang “Mainaky”.

Hal tersebut disampaikan oleh pria kelahiran Ternate, Maluku, 23 Januari 1965 itu ketika ditanya apa yang disampaikan oleh saudara sesama Mainaky-nya soal keputusan pensiun. Richard adalah yang pertama memulai karier sebagai pemain dan pelatih.

“Mereka mendukung apapun yang saya pilih. Adik-adik saya berterimakasih karena saya sudah menjadi awal jalan klan Mainaky ke Jakarta untuk bermain bulutangkis. Saya juga yang pertama berkarier menjadi pelatih. Saya berharap adik-adik saya bisa terus sukses,” ucap Richard di Jakarta, Senin (13/9), sebagaimana dipetik dari rilis resmi PBSI.

Di dunia bulutangkis nasional, klan Mainaky sudah menghasilkan nama besar di antaranya juara nomor ganda putra Olimpiade Atlanta 1996 yang kini melatih Tim Nasional Thailand, Rexy Mainaky.

Di Pelatnas PBSI sendiri, jabatan kepala bidang pembinaan dan prestasi dipegang oleh adik Richard, Rionny. Adapun Rionny bekerja untuk Pelatnas sejak 2020 setelah bertahun-tahun membangun Tim Nasional Jepang.

Ditanya soal apakah ia bakal merindukan aktifitasnya di Pelatnas PBSI di Cipayung, Richard mengamininya. Namun, untuk bulutangkis pelatih yang biasa disapa anak asuhnya “Kak Icad” tersebut mengaku sudah cukup.

“Bulutangkisnya ya pasti (yang saya rindukan). Saya sudah cukup lama di sini, pasti akan rindu kedekatan dengan anak-anak, bercanda sama ngasih latihan berat. Drilling-nya… ha.. ha.. ha..,” kata Richard.

“Saya tidak sedih karena sudah memberikan semua yang terbaik untuk PBSI.”

Di tangan Richard, Indonesia sukses menaikkan pamor sektor ganda campuran yang dulu dianggap paling tidak bergengsi. Puncaknya adalah ketika duet asuhannya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, meraih medali emas Olimpiade Rio De Janeiro sebagai bukti kembalinya tradisi emas setelah gagal di Olimpiade London 2012.

“Saya minta semua meneruskan apa yang sudah saya bangun. Jadi jangan sampai saya sudah tidak di sini, nanti tidak ada kerjasama yang bagus antar pelatih dan pemain. Saya tidak mau ganda campuran terpuruk lagi,” kata Richard.[]