Lifestyle

Ribut soal Vaksin Dosis Ketiga, WHO Belum Rekomendasikan

WHO masih belum merekomendasikan vaksin dosis ketiga


Ribut soal Vaksin Dosis Ketiga, WHO Belum Rekomendasikan
Dokter menyuntikan vaksin kepada warga saat mengikuti vaksinasi gratis yang diselenggarakan di SD 01 Petamburan, Jakarta Pusat, Jumat (23/7/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Topik dosis ketiga vaksin Covid-19 kini tengah ramai diperbincangkan. Penelitian di Tiongkok membuktikan antibodi yang dihasilkan vaksin Sinovac menurun setelah enam bulan menerima vaksin dosis kedua. Efikasi awal dari vaksin Sinovac adalah 65 persen.

Hal yang sama juga terjadi pada vaksin buatan Amerika Serikan, Pfizer. Menurut penelitian terbaru, efikasi vaksin Pfizer pun menurun rata-rata enam persen setiap dua bulan. Hingga sekitar empat sampai enam bulan efikasinya hanya menjadi sekitar 84 persen. 

Hasil penelitian ini mengakibatkan banyak pihak mulai  memikirkan tentang vaksin dosis ketiga sebagai booster. Akan tetapi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih belum merekomendasikan pemberian vaksin Covid-19 dosis ketiga. Direktur program imunisasi WHO, Dr Kate O'Brien menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada data yang cukup dan lengkap untuk merekomendasikan vaksin dosis ketiga. 

"Kami masih belum merekomendasikan booster karena informasinya masih belum cukup," kata Kate dalam wawancara dan dikutip dari kanal Youtube resmi WHO pada Jumat (30/7/2021).

WHO pun mengimbau setiap negara untuk selalu berhati-hati dan benar-benar memperhatikan  hasil penelitian terkait rekomendasi ini. Dan untuk saat ini, WHO masih akan terus mendalami terkait dosis booster tersebut. 

"Kami benar-benar mendorong semua negara untuk mengikuti bukti dan hanya melanjutkan regimen booster berdasarkan bukti. Jadi kami akan terus mengikuti ini dengan sangat hati-hati," imbuhnya.

Apabila saat ini ada negara yang memiliki dosis vaksin Covid-19 berlebih, WHO merekomendasikan untuk mendonasikannya ke negara-negara yang belum memiliki kesempatan memberikan vaksin kepada masyarakatnya, terutama kelompok rentan. 

“Jika suatu negara telah memvaksinasi tenaga kesehatannya dan populasi yang rentan dan memiliki kelebihan kapasitas (vaksin Covid-19) pada saat ini, kami merekomendasikan agar negara tersebut membagikan vaksin tersebut dengan negara yang belum sempat memvaksinasi kelompok yang rentan, tenaga kesehatan, pekerja garis depan mereka," tukas Nyka Alexander dari departemen komunikasi WHO. 

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengakui  imun vaksin Sinovac turun 6 bulan usai mendapat dosis penuh. Namun, vaksin Sinovac masih tetap memberikan perlindungan yang cukup. Oleh sebab itu, vaksin booster belum perlu diberikan kepada masyarakat umum.

"Memang dari hasil monitoring 6 bulan terlihat ada penurunan titter antibodi tetapi ini masih memberikan perlindungan, tetap memberikan perlindungan," katanya beberapa waktu lalu. 

"Belum perlu (masyarakat umum) sampai saat ini," pungkasnya.

Saat ini vaksinasi dosis ke-3 hanya diberikan kepada tenaga kesehatan (nakes), sebagai garda terdepan dan menerima paparan Covid-19 paling tinggi. Keputusan ini diambil atas saran dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).  Adapun jenis vaksin dosis ketiga yang diberikan kepada nakes adalah Moderna, yang memiliki efikasi lebih dari 90 persen. Seperti diketahui, mayoritas nakes sebelumnya telah divaksin Sinovac dosis penuh sejak Januari.