News

Ribuan Jip Merapi Ngandang Selama PPKM, Banyak yang Dilego Untuk Makan

Tak sedikit yang sudah dijual demi mencukupi kebutuhan hidup


Ribuan Jip Merapi Ngandang Selama PPKM, Banyak yang Dilego Untuk Makan
Ilustrasi jip merapi saat beroperasi (instagram.com/jeepmerapimjlc)

AKURAT.CO, Ribuan pelaku wisata jip Merapi terpaksa mengandangkan armadanya hampir sebulan ini. Tak sedikit yang sudah dijual demi mencukupi kebutuhan hidup.

Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi Wilayah Barat Kabupaten Sleman, Dardiri, menyebut setidaknya total ada 1.025 unit jip yang dimiliki anggota asosiasi wilayah barat maupun timur. Dikatakannya, seluruh armada tersebut tak lagi beroperasi sejak berlakunya PPKM darurat 3 Juli lalu hingga sepanjang PPKM level 4 ini.

Pasalnya, selama pembatasan mobilitas ini seluruh gerbang wisata yang daerah terdampak PPKM ditutup.

"Otomatis mau menawarkan jip wisata kita kan nggak ada yang kita tawarkan," kata Dardiri saat dihubungi, Rabu (28/7/2021).

Sementara para pelaku jip wisata juga sudah berupaya menyesuaikan operasi mereka dengan berbagai bentuk penerapan protokol kesehatan pencegahan penularan COVID-19 sejak pemerintah mengemukakan normal baru dan PPKM mikro kemarin. 

Meskipun sebenarnya kondisi pariwisata juga belum pulih seperti sebelum masa pandemi COVID-19.

"Mau nggak mau kita ikuti anjuran pemerintah saja walaupun kita udah prokes, SOP kita udah 100 persen tapi ya pemerintah maunya kayak gitu. Tapi di sisi lain wisatawan pun juga belum seperti biasanya, seandainya ada satu dua (pelanggan) tidak kerumunan itu saya kira rombongan juga nggak ada," paparnya.

Mengandangkan armada terlalu lama juga bukan tanpa konsekuensi. Mesin jip, walaupun tidak rutin tetap butuh perawatan agar performanya tetap prima ketika nanti dipakai beroperasi lagi.

Hanya saja, situasi menjadi cukup dilematis bagi para pemilik jip. Karena, di satu sisi mereka juga harus menjamin kebutuhan hidup masing-masing, sementara pemasukan saat ini nihil.

"Ya kita harus servis semuanya, sebelum kita jalan nanti kita servis lagi. Semuanya kayak aki, kayak apa, itu otomatis dengan sendirinya sebelum kita nanti jalan otomatis harus kesiapan dan persiapan harus kita utamakan. Seperti, aki, ban, oli, mungkin kan gitu, tapi kam untuk membenahi mendingan dipakai biaya hidup," akunya.

Akhirnya, banyak pemilik jip yang memutuskan untuk alih profesi. Tapi, tak sedikit pula yang harus merelakan armadanya dijual agar tetap bisa makan.

"Ya banyak yang dijual sebenernya. Kalau berapa kurang tahu persis. Tapi ada sih yang dijual untuk menutup kebutuhan sehari-hari, untuk nutup bank juga kan gitu, kebanyakan dulu pinjaman bank juga," imbuhnya.

Di sisi lain, kata Dardiri, para pemilik jip wisata ini juga belum tersentuh bantuan dari pemerintah. Bahkan sejak awal pandemi COVID-19 tahun lalu.

"(Bantuan) nggak ada sampai saat ini," tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Suparmono mengakui memang tak ada alokasi untuk bantuan khusus kepada para pelaku wisata jip Merapi. Sedangkan hibah Kemenparekraf sejauh ini hanya diperuntukkan untuk destinasi wisata, bukan paguyuban atau asosiasi pelaku wisata.

Kata Suparmono, Pemerintah Kabupaten Sleman saat ini lebih mengutamakan bantuan berupa vaksinasi COVID-19 untuk para pelaku wisata jip Merapi ini. Dinas Pariwisata sekarang ini juga tengah berembug dengan para pemilik jip untuk upaya penyaluran bantuan dalam wujud selain vaksin.

"Tapi mungkin teman-teman driver jip dan sebagainya itu kan berhimpitan dengan kelurahan, itu kan bisa dapat (bansos) dari kelurahan dari program-program pemerintah yang lain. Nggak hanya melulu dari golongan jip wisata itu saja menurut saya," imbuh Suparmono saat dihubungi, Rabu (28/7). []