Ekonomi

RI Berpeluang Masuk Rantai Nilai Pangan dalam IA-CEPA

Indonesia memiliki peluang untuk masuk ke dalam rantai nilai pangan/Food Value Chain melalui Economic Powerhouse dalam kemitraan Indonesia Australia-CEPA.


RI Berpeluang Masuk Rantai Nilai Pangan dalam IA-CEPA
Ilustrasi Proses industri makanan kecil (snack) (AUTOMATEINDO.COM)

AKURAT.CO Indonesia memiliki peluang untuk masuk ke dalam rantai nilai pangan atau Food Value Chain melalui Economic Powerhouse dalam kemitraan Indonesia Australia-Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Ratifikasi IA CEPA diharapkan mampu memperkuat keberadaan Indonesia di dalam Food Value Chain. Penguatan posisi Indonesia dalam Food Value Chain pada akhirnya dapat menjadikan industri pengolahan pangan Indonesia menjadi salah satu salah satu pemain penting di dunia.

Berdasarkan penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), industri pengolahan makanan dan minuman merupakan kontributor ekspor Indonesia terbesar kedua setelah pertambangan.

Selain itu, industri pengolahan makanan menyumbang sekitar 30-40% dari total hasil produksi dan mempekerjakan sekitar 20% dari semua pekerja manufaktur dengan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang berkontribusi pada 75% lapangan kerja.

Saat ini output dari sektor ini didominasi oleh perusahaan besar seperti Indofood, Wings, Mayora, GarudaFood, Nestle, Heinz, Kraft, Unilever, dan Danone.

Hal ini menunjukkan bahwa sektor makanan dan minuman adalah sektor yang kompleks dengan banyak pemain, mulai dari usaha mikro hingga besar. Investasi pada industri pengolahan makanan terus meningkat pada investasi domestik, yang merupakan sektor sekunder terbesar pada tahun 2019, dan ketiga dalam hal Foreign Direct Investment (FDI) setelah kimia dan farmasi dan logam dasar.

“Indonesia dapat memanfaatkan Economic Powerhouse dalam kemitraan IA-CEPA. Indonesia dan Australia merupakan pemain kecil di industri pengolahan makanan dan minuman tingkat global dengan pangsa ekspor dan impor global masing-masing di bawah 2%. Indonesia merupakan salah satu importir daging sapi terbesar Australia dan Australia mengimpor tepung gandum dalam jumlah besar ke Indonesia. Potensi ini dapat dimaksimalkan untuk sama-sama mengangkat posisi keduanya dalam Food Value Chain,” ujar peneliti CIPS Arianto Patunru lewat keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (15/4/2021).

Menurutnya, Indonesia hanya bisa memproduksi 50% dari kebutuhan daging sapi nasonal. Untuk mengisi kekosongan tersebut, Indonesia mengimpor lebih dari 50% ekspor sapi hidup Australia. Hal ini, lanjut Arianto, diharapkan dapat mendorong investor Indonesia untuk berinvestasi di peternakan sapi di Australia.

Potensi lain dapat dilihat dari kandungan produk asing dalam produk olahan makanan dan minuman Indonesia dan Australia, yaitu hanya sebesar 4% dan 12%. Jumlah ini terbilang kecil kalau dibandingkan dengan Malaysia 24% dan Taiwan 35%.

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu