Ekonomi

RI Larang Ekspor Sawit, Malaysia: Ini Kesempatan Kita!

Malaysia akan mendapat manfaat dari permintaan sawit ini serta akan melakukan upaya dan kampanye agresif untuk mengisi kesenjangan pasokan minyak nabati.

RI Larang Ekspor Sawit, Malaysia: Ini Kesempatan Kita!
Tandan Kelapa Sawit (ASHAFERTILIZER.COM)

AKURAT.CO, Produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, Malaysia hari ini Jumat (6/5/2022) mengatakan bahwa pihaknya akan memanfaatkan kekurangan minyak nabati dunia untuk merebut pangsa pasar minyak sawit, setelah Eropa menghindaei komoditas tersebut karena masalah lingkungan.

Sebagaimana untuk diketahui, minyak kelapa sawit digunakan untuk membuat berbagai olahan dari lipstik hingga mie. Namun ketika produsen utama, Indonesia melarang ekspor sawit demi melancarkan pasokan dalam negeri.

Akibatnya, beberapa perusahaan telah memperkenalkan produk bebas sawit demi mengikuti kebijakan Uni Eropa yang akan menghapus biofuel secara bertahap pada tahun 2030. Padahal Uni Eropa merupakan pembeli sawit terbesar ketiga di dunia.

baca juga:

Namun Inggris dan Islandia yang sebelumnya melakukan pelarangan penggunaan sawit, terpaksa kembali ke penggunaan sawit dalam beberapa bulan terakhir karena kekurangan minyak nabati global yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina dan Indonesia.

Melihat hal ini, Zuraida Kamaruddin, Menteri Industri dan Komoditas Perkebunan Malaysia, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pemerintah Malaysia akan memanfaatkan situasi ini dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

"Sudah saatnya kita meningkatkan upaya untuk melawan propaganda yang merugikan untuk merusak kredibilitas minyak sawit kita, kita tunjukan bahwa minyak sawit pun banyak memiliki manfaat kesehatan," kata dia seperti yang dilansir dari Channel News Asia.

Zuraida mengatakan harga minyak nabati global kemungkinan akan tetap tinggi pada paruh pertama tahun 2022 dan permintaan dari Uni Eropa akan tetap meningkat dalam waktu dekat karena terbatasnya pasokan minyak bunga matahari dan kedelai.

Zuraida mengatakan bahwa Malaysia akan mendapat manfaat dari permintaan sawit ini serta akan melakukan "upaya dan kampanye agresif" untuk mengisi kesenjangan pasokan minyak nabati dalam jangka panjang.

Sebelumnya, Malaysia dan Indonesia secara kompak mengatakan bahwa kebijakan Eropa pada biofuel berbasis minyak sawit adalah diskriminatif, padahal kedua negara tersebut merupakan penyumbanh 85 persen dari produksi minyak sawit dunia.

Ditambah dengan adanya ketidakpastian atas pasokan minyak bunga matahari ditengah invasi Rusia ke Ukraina telah mendorong permintaan minyak sawit dan kedelai karena importir mencari alternatif, sehingha memicu kenaikan harga minyak sayur secara global.