Dr. Akhmad Shunhaji, M.A.

Kaprodi Magister Pendidikan Islam, Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta
News

Respon Quranik terhadap Pola Pembelajaran di Masa Pandemi

Sektor pendidikan termasuk dalam kelompok penerima efek domino kebijakan pemerintah.


Respon Quranik terhadap Pola Pembelajaran di Masa Pandemi
Sejumlah pelajar dari berbagai macam tingkat sekolah melakukan kegiatan pembelajaran langsung jarak jauh (PLJJ) di Kantor Sekretariat warga RW 02, Kelurahan Galur, Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (8/9/2020).

AKURAT.CO, Wabah virus korona menyebar sangat cepat ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sejak virus tersebut menjangkiti masyarakat di Indonesia Maret 2020, Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya dan mengambil kebijakan penanganan. Upaya tersebut bisa dilihat dari penyiapan rumah sakit rujukan, program jaring pengaman sosial, penjagaan pertumbuhan ekonomi, hingga kebijakan yang mendukung efektivitas pendidikan. Banyak upaya telah dilakukan oleh Pemerintah. Namun, pada kenyataannya, jumlah masyarakat yang terjangkit covid-19 diberitakan terus bertambah.

Kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat menjadi pilihan pelengkap untuk mempercepat penanganan covid-19. Langkah tersebut diambil untuk memutus rantai penularan virus. Wujud kebijakan ini antara lain pembatasan bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Pembatasan beraktivitas dilanjutkan dengan anjuran ‘paksa’ kepada masyarakat untuk melakukan pembatasan interaksi sosial (social distancing) hingga pembatasan interaksi fisik (physical distancing).

Dampak wabah virus korona dirasakan oleh hampir semua lapisan masyarakat. Kebijakan pemerintah belum sepenuhnya memberikan respon positif. Bahkan, dalam beberapa kebijakan menimbulkan efek negatif lain. Efek ini, antara lain disebabkan oleh ketidaksiapan individu maupun kelompok dalam banyak hal.

baca juga:

Sektor pendidikan termasuk dalam kelompok penerima efek domino kebijakan pemerintah. Sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lain diharuskan merubah pola pembelajaran. Pola pembelajaran tatap muka di kelas diganti dengan kebijakan pembelajaran jarak jauh atau model lain. Untuk kebijakan ini, pemerintah menyediakan perubahan kurikulum darurat dan memberikan fleksibilitas kepada lembaga pendidikan untuk menyusun kurikulum lain yang sesuai kebutuhan pembelajaran. Selain kurikulum, pemerintah juga menyediakan subsidi kuota atau sarana pendukung lain.

Pola pembelajaran mengalami banyak penurunan kualitas. Kesimpulan adanya penurunan kualitas dibuktikan oleh rendahnya variabel pendukung pembelajaran. Dukungan pemerintah dianggap belum optimal. Sekolah dan lembaga pendidikan lain belum semua memiliki sarana yang mendukung pembelajaran jarak jauh. Sebagian besar pendidik merasa memiliki keterbatasan menyusun kurikulum kolaboratif. Sebagian mereka juga memiliki keterbatasan dengan perkembangan teknologi pembelajaran. Orang tua pesertadidik tidak siap mendampingi putra-putrinya belajar di rumah. Di sampaing keterbatasan pemahaman kurikulum, orang tua pesertadidik juga tidak mengusai psikologi dan metode mengajar. Berbagai hal tersebut, memberikan kontribusi terhadap penurunan motivasi belajar pesertadidik yang sekaligus menurunkan kualitas pembelajaran.

Sebagian masyarakat mencari solusi permasalahan pola pembelajaran tersebut pada Al-Qur’an. Al-Qur’an dianggap menjadi kitab suci yang sempurna dan menyediakan solusi pada setiap permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia. Al-Quran diyakini sebagai kitab suci yang diturunkan untuk menyelasaikan semua persoalan hidup yang dihadapi oleh manusia. Semua jawaban atas permasalahan yang dihadapi manusia, seolah-olah terdapat di dalam al-Quran.

Pola pembelajaran akibat wabah virus korona tidak dijelaskan secara sharih di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an meriwayatkan kisah yang memiliki dampak semacam pandemi, seperti yang pernah terjadi pada kaum Tsamud (Q.S 15/ 59). Kisah semacam ini sering diakhiri dengan kebinasaan. Artinya, terhadap solusi pola pembelajaran tidak memiliki kaitan secara langsung. Pada masa Rasulillah SAW pernah terjadi virus semacam kusta menular. Beliau memerintahkan umat untuk menghindarinya dengan cara semacam social distancing dan physical distancing.

Al-Qur’an memang tidak menjelaskan secara gamblang tentang pola pembelajaran saat terjadi pandemi. Namun, Al-Qur’an memberikan penjelasan banyak terkait tugas dan tanggungjawab individu. Dan, wabah virus korona menyadarkan kembali tanggungjawab individu tersebut. Al-Qur’an menyatakan bahwa setiap individu memiliki kewajiban sebagai makhluk individual maupun sosial. Kewajiban individual sering dicontohkan dalam bentuk ibadah ritual-personal, seperti shalat, puasa, menjaga diri dari kesengsaraan, dan lain-lain banyak dikupas pembahasannya di dalam Al-Qur’an (QS. 2: 43, QS. 2: 183, QS. 2: 195, QS. 11: 114, QS. 22: 77, dll). Selain itu, setiap individu juga memiliki tugas individual yang terikat dalam lingkup sosial, seperti kepedulian sosial, memelihara kelestarian dan keseimbangan alam, serta menjaga kedamaian dalam kehidupan (QS. 2: 177, QS. 17: 26, QS. 30: 41, QS. 21: 107). Al-Qur’an menekankan adanya tanggungjawab individual dalam berbagai ranah kehidupan.

Terkait dengan pola pembelajaran masa dan pasca pandemi, terdapat tiga hal penting yang dapat diambil dari ajaran Al-Qur’an. Ketiganya adalah tanggungjawab personal, tindakan profesional, dan etika transendental.

Super Admin

https://akurat.co

It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum
Follow Me:

0 Comments

Leave a comment

Sorry, you mush first