Rahmah

Respon Dakwah di Era Digital, Akademisi UIN Jakarta: Harus Tetap Pentingkan Literasi

Respon Dakwah di Era Digital, Akademisi UIN Jakarta: Harus Tetap Pentingkan Literasi
Syamsul Yakin (Lufaefi/Akurat.co)

AKURAT.CO Era digital membuat sebagian masyarakat berbondong-bondong menyampaikan dakwah di media sosial masing-masing. Semua orang bisa dengan mudah menyampaikan apa yang menjadi unek-unek dalam pemikirannya. Demikian disampaikan Syamsul Yakin, akademisi UIN Jakarta, dalam Bincang Hikmah Akurat.co (25/3/2021).

Syamsul menegaskan, fenomena dakwah di era digital harus dibarengi dengan literasi. "Harus imbang antara dakwah literasi dan literasi dakwah." Tegasnya dalam program yang diselenggarakan via daring itu.

Syamsul berharap, meskipun di era digit saat ini kita bisa mengakses bacaan di media sosial, tetapi harus melihat referensi aslinya. "Saya sangat menekankan agar dalam berdakwah di era digital ini kita selalu menyampaikan sumber. Agar lebih percaya diri. Sebutkan sumber aslinya. Dari kitab mana, dari kitab apa." Imbuhnya.

baca juga:

Menurutnya, referensi dalam buku-buku aslinya atau kitab kuning aslinya itu lebih lengkap, lebih pantas untuk dijadikan sebagai bahan dan referensi berdakwah. Sehingga menurutnya, dakwah yang dibarengi dengan literasi modem ini yang sesungguhnya menyeimbangkan antara dakwah dan literasi.

Syamsul juga prihatin dengan kondisi para pelajar di era sekarang, yang sebagian saat mencari referensi berhenti pada media sosial. "Sangat disayangkan Mahasiswa sekarang, tidak seperti Mahasiswa dulu zaman kita (dirinya), yang ketika mencari referensi benar-benar dicari di sumber aslinya sampai ketemu. Sekarang tidak demikian" Kata beliau lagi.

Dosen Magister Ilmu Komunikasi dan Dakwah FIDIKOM UIN Jakarta itu juga mencontohkan ketika kita berbicara soal tauhid jika membaca salah satu kitab bernama Qatrul Ghaits karya Ibn Laits, di sana akan ditemukan penjelasan yang kaya. Ditambah dengan syarah kitab yang ditulis Syaikh Nawawi. Begitu juga ketika membincang soal fikih, jika membaca kitab Safinah An-Najah langsung, akan menemukan ketakjuban.

"Dengan membaca referensi-referensinya secara langsung, kita akan bisa lebih konkrit dan lengkap, tidak terpotong-potong. Sehingga valid menjadi data untuk dakwah. Berbeda jika hanya mencari melalui media sosial." Menurutnya.

Dalam program Bincang Hikmah itu, Syamsul kembali berharap agar para pelajar dan siapapun yang bergelut di media sosial untuk mengedepankan dakwah literasi dan literasi dakwah. Dakwah yang diimbangi dengan referensi-referensi asli melalui bacaan baik buku maupun kitab-kitab masterpice para ulama kita.[]

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu